Indonesia Kuasai Pasar Nilam Dunia, ParagonCorp Soroti Peran Petani Sulawesi
JAKARTA, JatengSatu.TOP – ParagonCorp membawa cerita para petani nilam (patchouli) asal Sulawesi ke panggung internasional melalui Partnership for Forests Conference (P4F) di Barbican Conservatory, London, Inggris. Dalam forum yang mempertemukan pelaku bisnis, investor, dan organisasi keberlanjutan dari berbagai negara itu, ParagonCorp menjadi satu-satunya perusahaan kecantikan asal Indonesia yang berpartisipasi pada 2026.
Lewat forum tersebut, ParagonCorp tidak hanya memperkenalkan produk berbasis bahan alami Indonesia, tetapi juga menyoroti pentingnya rantai pasok patchouli yang berkelanjutan. Komoditas nilam sendiri telah menempatkan Indonesia sebagai pemasok sekitar 80 persen kebutuhan dunia sejak abad ke-19.
Deputy CEO & Chief R&D Officer ParagonCorp, dr. Sari Chairunnisa, mengatakan keberhasilan Indonesia sebagai produsen nilam dunia tidak lepas dari peran para petani yang selama ini bekerja di balik rantai pasok industri parfum global.
“Indonesia memiliki posisi yang sangat penting dalam rantai pasok patchouli dunia. Namun yang sering terlupakan adalah para petani yang berada di balik komoditas tersebut. Melalui forum ini, kami ingin membawa cerita mereka ke percakapan yang lebih luas,” ujar dr. Sari.
Saat ini, ParagonCorp membina lebih dari 700 petani aktif di Sulawesi yang tergabung dalam jaringan rantai pasok bersertifikat For Life dari Ecocert. Program tersebut mencakup pelatihan budidaya, peningkatan kesehatan dan keselamatan kerja, hingga penerapan praktik pertanian yang menjaga produktivitas lahan dalam jangka panjang.
Nilam merupakan salah satu komoditas bernilai ekonomi tinggi karena minyak atsirinya menjadi bahan utama berbagai produk parfum dunia. Untuk menjaga keberlanjutan produksi, ParagonCorp menerapkan pendekatan pertanian regeneratif.
Dalam sistem tersebut, lahan diistirahatkan melalui rotasi tanaman setelah empat kali panen atau sekitar 15 bulan. Sementara limbah hasil penyulingan diolah menjadi kompos dan dikembalikan ke lahan sebagai pupuk alami untuk menjaga kesuburan tanah.
“Dibutuhkan sekitar 250 kilogram daun patchouli segar untuk menghasilkan 1 kilogram minyak. Angka tersebut menunjukkan betapa besar kerja keras para petani dalam menghasilkan bahan yang kemudian digunakan dalam berbagai produk parfum di pasar global,” jelas dr. Sari.
Melalui keikutsertaan di Partnership for Forests Conference, ParagonCorp menegaskan komitmennya membangun rantai pasok yang lebih transparan, bertanggung jawab, dan berkelanjutan bersama petani serta komunitas lokal.
Sebagai purposeful beauty tech company, ParagonCorp terus mengembangkan inovasi yang tidak hanya berorientasi pada kualitas produk, tetapi juga memperhatikan dampak sosial dan lingkungan di setiap proses bisnis.
“Kami menyadari perjalanan ini masih panjang. Namun kami percaya bahwa perubahan dimulai dari langkah-langkah yang dilakukan secara konsisten. Bagi kami, kemajuan lebih penting daripada kesempurnaan,” tutup dr. Sari.



