Gempa M 7,7 Guncang Flores, Undip Terjunkan Tim D-DART: Dokter dan Psikolog Siap Bantu Korban
SEMARANG, JatengSatu.TOP – Gempa bumi tektonik bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026), langsung direspons Universitas Diponegoro (Undip).
Tak hanya menggalang bantuan, Undip mengirim Tim Diponegoro Disaster Assistance Response Team (D-DART) untuk turun langsung membantu masyarakat terdampak di sejumlah wilayah Flores.
Tim D-DART yang berada di bawah Pusat Penanggulangan Bencana LPPM Undip dilepas Rektor Undip Prof. Dr. Suharnomo, S.E., M.Si., di Hall Gedung Widya Puraya, Kampus Undip Tembalang, Rabu (19/8/2026).
Sebelum diberangkatkan, para relawan mendapat pengarahan mengenai pembagian tugas, kesiapan lapangan, koordinasi, serta pola komunikasi dengan jejaring penanganan bencana di NTT.
“Hari ini kami melepas Tim Darurat Bencana Undip untuk membantu saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur. Ada dokter, tenaga kesehatan, tim psikologi, dan unsur lain yang akan bekerja bersama,” ujar Prof. Suharnomo.
Menurut dia, tim yang diberangkatkan tidak hanya bertugas memberikan layanan kesehatan. Relawan juga akan melihat kebutuhan masyarakat secara langsung dan memberikan bantuan sesuai kondisi di masing-masing wilayah.
Tim berikutnya akan diberangkatkan secara bertahap apabila kebutuhan di lapangan meningkat.
“Semoga simpati dan tanda cinta dari Universitas Diponegoro ini dapat dirasakan oleh saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur. Kami hadir dengan kemampuan yang kami miliki, tetapi dengan kepedulian sepenuhnya,” katanya.
D-DART Bawa Misi Medis hingga Psikososial
Pada tahap awal, 5-8 personel diberangkatkan dari sejumlah fakultas di Undip.
Mereka berasal dari Fakultas Kedokteran (FK), Fakultas Psikologi (FPsi), Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB), serta Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK).
Tugas utama tim meliputi kaji cepat kebutuhan masyarakat, layanan kesehatan, pendampingan psikososial, dukungan obat-obatan, hingga bantuan logistik kebutuhan dasar.
D-DART juga akan memperkuat jejaring dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTT, Himpunan Perawat Gawat Darurat dan Bencana Indonesia (HIPGABI) NTT, alumni Undip, serta berbagai pihak yang terlibat dalam penanganan bencana.
Kupang menjadi lokasi awal tim untuk berkoordinasi dengan posko utama dan pemerintah setempat.
Setelah itu, tim direncanakan bergerak ke Nagekeo untuk mendukung kebutuhan obat-obatan. Perjalanan kemudian dilanjutkan ke Maumere dan Manggarai yang menjadi sasaran pelayanan psikososial serta distribusi logistik dasar.
Pemetaan kebutuhan secara langsung dilakukan agar bantuan yang diberikan tidak salah sasaran.
Medan Flores Jadi Tantangan
Wakil Rektor IV Undip Wijayanto mengatakan respons terhadap gempa Flores merupakan gerakan bersama seluruh elemen kampus, termasuk mahasiswa.
“Kami bergerak cepat merespon musibah ini melalui penggalangan bantuan dan pengiriman tenaga ahli, mulai dari dokter, perawat, hingga tim pendampingan psikososial,” ungkap Wijayanto.
Menurutnya, kondisi geografis Kepulauan Flores membuat pengiriman bantuan membutuhkan strategi khusus.
Karena itu, Undip mempersiapkan keberangkatan relawan dengan mempertimbangkan akses menuju wilayah terdampak serta kebutuhan masyarakat di setiap lokasi.
Sementara itu, Wakil Ketua Bidang Pengabdian Masyarakat LPPM Undip Prof. dr. Achmad Zulfa Juniarto mengatakan Undip telah menyiapkan sekitar 15-20 relawan yang dapat diberangkatkan secara bergelombang.
Personel dengan kemampuan surveilans dan tanggap darurat, khususnya tenaga medis, menjadi prioritas pada fase awal.
Mereka akan melakukan pemetaan kondisi di lapangan untuk menentukan bentuk bantuan dan intervensi berikutnya.
Undip juga menyiapkan tenda, bahan makanan, obat-obatan serta perlengkapan dasar untuk menunjang kegiatan relawan dan masyarakat terdampak.
Pengiriman relawan tambahan akan menyesuaikan perkembangan situasi. Kemungkinan gempa susulan, luasnya wilayah terdampak, keterbatasan penerbangan dan jadwal kapal feri menjadi sejumlah pertimbangan.
D-DART juga tidak bekerja sendirian. Koordinasi dilakukan dengan pemerintah daerah, BPBD, organisasi profesi, alumni Undip dan jejaring perguruan tinggi.
Dengan pola tersebut, bantuan diharapkan dapat diberikan secara terarah dan menjangkau masyarakat yang paling membutuhkan.
Bagi Undip, keberangkatan D-DART menjadi bentuk nyata pengabdian kepada masyarakat. Dari Semarang, para relawan membawa keahlian, tenaga dan kepedulian untuk membantu masyarakat Flores melewati masa sulit pascagempa.



