Mahasiswa Jepang di Undip Belajar Administrasi Publik, Pelajari Tata Kelola Indonesia
SEMARANG, JatengSatu.TOP – Mahasiswa Jepang di Undip, Shinya Okuda, memilih belajar Administrasi Publik di FISIP Universitas Diponegoro. Mahasiswa asal University of Fukui itu tertarik mempelajari bagaimana pemerintah Indonesia bekerja dan memberikan pelayanan kepada masyarakat. Shinya merupakan peserta Diponegoro Exchange Experience Programme (DEEP) yang mengikuti pertukaran mahasiswa selama satu semester.
Kehadiran mahasiswa Jepang di Undip itu menjadi bagian dari semakin beragamnya mahasiswa internasional di FISIP Undip. Ia juga hadir dalam International Students Gathering 2026 yang digelar FISIP Undip, Jumat (4/9/2026). Kegiatan itu menjadi ruang bagi mahasiswa internasional dan sivitas akademika untuk saling mengenal, berbagi pengalaman, serta memperkuat interaksi lintas budaya.
Alasan Mahasiswa Jepang di Undip Memilih Administrasi Publik
Bagi Shinya, belajar di Indonesia memberi kesempatan memahami tata kelola pemerintahan dan pelayanan publik dari perspektif berbeda dengan Jepang. Mahasiswa Jepang di Undip itu mengatakan ketertarikannya pada cara pemerintah bekerja menjadi alasan utama memilih Program Studi Administrasi Publik.
“Saya memilih Administrasi Publik karena saya tertarik mempelajari bagaimana pemerintah bekerja dan memberikan pelayanan kepada masyarakat. Belajar di Indonesia juga memberi saya kesempatan untuk memahami Administrasi Publik dari perspektif yang berbeda dengan Jepang,” ujar Shinya.

Selama mengikuti perkuliahan di FISIP Undip, mahasiswa Jepang di Undip itu tidak hanya mengejar pengalaman akademik. Ia juga ingin mengenal lebih dekat masyarakat dan budaya Indonesia. Menurutnya, interaksi langsung dengan mahasiswa Indonesia menjadi bagian penting dari pengalaman belajarnya.
“Saya berharap bisa belajar banyak dari Indonesia, tidak hanya tentang Administrasi Publik, tetapi juga tentang masyarakat dan budayanya. Saya juga ingin berbagi perspektif dari Jepang dengan mahasiswa di sini,” katanya.
Shinya juga melihat kesempatan membandingkan bagaimana isu pemerintahan dan pelayanan publik dipahami di Indonesia dan Jepang. Pertukaran perspektif itu menjadi salah satu hal yang ingin ia peroleh selama menjalani program DEEP di Undip.
FISIP Undip dan Mahasiswa Internasional dari Berbagai Negara
Dekan FISIP Undip, Prof. Teguh Yuwono, mengatakan mahasiswa internasional di FISIP Undip saat ini berasal dari berbagai negara. Mulai dari Rusia, Jerman, Belanda, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Vietnam, Madagaskar, Kamboja, hingga sejumlah negara di Afrika.
Menurut Teguh, keberadaan mahasiswa dari berbagai negara membuka kesempatan membangun interaksi lintas budaya secara langsung di lingkungan kampus.
“Ini adalah sebuah new tradition, tradisi baru di FISIP. Interaksi kita hari ini sangat strong. Jadi, kita membangun tidak hanya sekadar budaya lokal dan budaya nasional, tetapi juga budaya internasional,” ujarnya.
International Students Gathering sendiri merupakan tahun kedua kegiatan penyambutan mahasiswa internasional di FISIP Undip. Teguh mengatakan kegiatan itu dirancang agar mahasiswa internasional merasa nyaman dan menjadi bagian dari komunitas FISIP selama menjalani studi di Indonesia.
“Jadi, ini tahun kedua kita melakukan welcoming mahasiswa internasional yang bertujuan untuk menciptakan suasana dan kondisi supaya para mahasiswa asing kita itu seperti di rumah, living like a home di FISIP,” katanya.
Menurutnya, proses internasionalisasi perguruan tinggi tidak hanya berkaitan dengan perkuliahan menggunakan bahasa Inggris atau peningkatan jumlah mahasiswa asing. Interaksi sehari-hari antara mahasiswa Indonesia dan mahasiswa internasional juga menjadi bagian penting dari pengalaman pendidikan.

Melalui kegiatan seperti International Students Gathering, mahasiswa memiliki ruang berbagi pengalaman, budaya, serta membangun relasi dengan mahasiswa dari berbagai negara. Teguh menambahkan FISIP Undip terus berupaya membangun lingkungan akademik dengan standar internasional melalui kelas internasional dan berbagai program mobilitas mahasiswa.
“Yang saya syukuri adalah Fakultas FISIP ini sekarang standarnya sudah internasional, world class level. Jadi, yang kita lakukan hari ini adalah mengintroduksi program-program yang biasa dilakukan di luar negeri,” katanya.
Ia berharap lingkungan kampus yang nyaman membuat mahasiswa internasional lebih mudah beradaptasi sekaligus memperoleh pengalaman akademik dan sosial yang berkesan selama berada di Indonesia. Keberadaan mahasiswa internasional juga diharapkan semakin memperkuat posisi Semarang sebagai salah satu destinasi pendidikan bagi mahasiswa dari berbagai negara.



