SEMARANG, JatengSatu.TOP – Polda Jawa Tengah mulai mengerahkan para Bhabinkamtibmas untuk membantu pemberantasan tuberkulosis atau TBC melalui program “Polda Jateng Peduli Berantas TB Paru”. Program tersebut menjadi inovasi baru Polri dalam mendukung percepatan eliminasi TB di Indonesia pada tahun 2030.
Melalui program itu, ribuan Bhabinkamtibmas dilatih menjadi tracer TB paru untuk membantu menemukan kasus aktif di masyarakat sekaligus memberikan edukasi kepada warga agar mau menjalani pemeriksaan dan pengobatan hingga sembuh.
Peluncuran program dilakukan di Gedung Borobudur Mapolda Jateng, Senin (25/5/2026), yang dihadiri Kapolda Jateng Irjen Pol Ribut Hari Wibowo, Wakapolda Brigjen Pol Latif Usman, pejabat utama Polda Jateng, hingga berbagai organisasi profesi kesehatan.
Kabiddokkes Polda Jateng Kombes Pol drg. Agung Hadi Wijanarko Sp.BM., MARS., FISQua mengatakan langkah tersebut dilatarbelakangi tingginya angka kasus TBC di Indonesia yang masih menjadi persoalan serius kesehatan nasional.
“Berdasarkan data nasional, Indonesia menempati posisi kedua tertinggi di dunia setelah India dengan jumlah penderita TB aktif mencapai sekitar 1 juta jiwa. Indonesia juga menyumbang sekitar 10 persen dari total kasus TB dunia,” kata Agung.
Ia menjelaskan tingkat keberhasilan penanganan TB di Indonesia saat ini masih berada di angka 86 persen, sementara cakupan tracing atau penemuan kasus baru masih sekitar 77 persen.
“Angka keberhasilan program penanganan TB di Indonesia masih berada pada angka 86 persen, sedangkan cakupan tracing atau penemuan kasus baru masih sekitar 77 persen sehingga perlu diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor,” ujarnya.
Menurut Agung, Jawa Tengah juga menjadi salah satu wilayah dengan jumlah penderita TB tertinggi di Indonesia. Berdasarkan data Situasi Tuberkulosis Indonesia Tahun 2025, Jawa Tengah berada di posisi ketiga nasional dengan total 105.428 kasus TB paru.
Lima wilayah dengan kasus tertinggi di Jawa Tengah pada tahun 2026 meliputi Kabupaten Brebes sebanyak 8.291 kasus, Kabupaten Banyumas 7.517 kasus, Kabupaten Tegal 6.750 kasus, Kota Semarang 6.390 kasus, serta Kabupaten Cilacap sebanyak 6.261 kasus.
“Kota Semarang juga masuk wilayah dengan jumlah kasus TB cukup tinggi sehingga perlu perhatian bersama,” ungkapnya.
Dalam pelaksanaannya, para Bhabinkamtibmas tidak hanya dibekali kemampuan tracing, tetapi juga pelatihan komunikasi persuasif dan public speaking agar mampu melakukan pendekatan humanis kepada masyarakat.
Mereka nantinya akan membantu melakukan pendataan, tracing kontak erat penderita, hingga memberikan edukasi terkait pentingnya pengobatan TB sampai tuntas.
“Bhabinkamtibmas nantinya diharapkan mampu membantu tracing kasus TB paru di masyarakat sekaligus memberikan edukasi dan komunikasi yang efektif agar masyarakat mau melakukan pemeriksaan dan menjalani pengobatan sampai tuntas,” jelas Agung.
Polda Jateng juga meluncurkan sejumlah program pendukung seperti distribusi buku saku Bhabinkamtibmas Tracer TB, penyediaan KIT TB paru, hingga pengoperasian mobil dan motor jemput pasien TB untuk membantu akses layanan kesehatan masyarakat.
Selain itu, kampanye TOSS atau Temukan, Obati Sampai Sembuh turut digaungkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai bahaya TBC dan pentingnya deteksi dini.
Kapolda Jateng Irjen Pol Ribut Hari Wibowo mengatakan persoalan TBC tidak bisa diselesaikan oleh tenaga kesehatan saja, melainkan membutuhkan dukungan seluruh elemen masyarakat.
“TBC ini menjadi pekerjaan kita bersama. Tidak hanya Dinas Kesehatan dan organisasi kesehatan, tetapi seluruh elemen masyarakat harus bersinergi untuk mengeliminasi penyakit ini,” tutur Kapolda.
Menurutnya, keberadaan Bhabinkamtibmas sebagai ujung tombak Polri di tengah masyarakat menjadi kekuatan penting dalam membantu penanganan TBC hingga tingkat desa.
“Maknai program ini sebagai semangat kemanusiaan sehingga kehadiran kita benar-benar bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” pesannya.
Kabid Humas Polda Jateng Kombes Pol Artanto menambahkan program tersebut merupakan bentuk transformasi pelayanan Polri agar lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat.
“Program Polda Jateng Peduli Berantas TB Paru ini merupakan bentuk kolaborasi dan kepedulian Polri dalam mendukung eliminasi TB di Indonesia. Kami mengoptimalkan peran Bhabinkamtibmas sebagai tracer di lapangan untuk membantu menemukan kasus lebih dini, melakukan edukasi kepada masyarakat, serta memastikan penderita TB mendapatkan akses pengobatan yang tepat,” ujar Artanto.
Ia berharap sinergi lintas sektor yang dibangun mampu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya TBC sehingga rantai penularan dapat ditekan lebih cepat.
“Penanganan TB paru bukan hanya persoalan kesehatan, tetapi juga menyangkut kualitas hidup dan produktivitas masyarakat,” pungkasnya.




