Sarasehan Lintas Agama PUK Undip, Sepakat Rawat Kerukunan Lewat Dialog dan Aksi Nyata

 

Tokoh Lintas Agama Berkumpul di Undip, Bangun Interaksi Harmonis 

 

SEMARANG, JatengSatu.TOP – Di tengah beragam tantangan sosial yang dihadapi masyarakat Indonesia, tokoh agama dari berbagai keyakinan memilih duduk bersama dalam satu forum di Universitas Diponegoro (Undip). Mereka berdialog, bertukar pandangan, sekaligus merumuskan langkah bersama untuk memperkuat kerukunan dan kolaborasi lintas iman.

Momentum tersebut terwujud dalam Sarasehan Lintas Agama bertajuk “Kebersamaan Membangun Interaksi Harmonis dan Kolaborasi Produktif” yang diselenggarakan Persekutuan Umat Kristiani (PUK) Undip pada Rabu (24/6/2026).

Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian Perayaan Paskah PUK Undip 2026 itu menghadirkan tokoh agama Islam, Hindu, Buddha, Konghucu, Katolik, dan Kristen Protestan bersama akademisi serta sivitas akademika Undip.

Ketua Panitia, Robertmi Jumpakita Pinem, S.AB., MBA., Ph.D., mengatakan sarasehan digelar sebagai upaya memperkuat kesadaran bahwa keberagaman merupakan kekuatan yang harus dirawat bersama.

“Sarasehan ini dilaksanakan sebagai bagian dari upaya membangun kesadaran bersama bahwa perbedaan agama, budaya, maupun latar belakang sosial bukanlah penghalang untuk bekerja sama,” kata Robertmi.

Menurutnya, masyarakat Indonesia memiliki modal sosial yang sangat besar berupa keberagaman. Karena itu, ruang-ruang dialog perlu terus dibuka agar perbedaan tidak menjadi sumber perpecahan, melainkan menjadi kekuatan untuk membangun kehidupan yang lebih baik.

Dalam forum tersebut, peserta sepakat bahwa harmoni sosial tidak lahir secara otomatis. Harmoni harus dibangun melalui komunikasi, saling mengenal, saling memahami, dan kerja sama yang dilakukan secara berkelanjutan.

Berbagai pandangan yang muncul dalam sarasehan menegaskan bahwa transformasi pribadi menjadi langkah awal dalam menciptakan kehidupan yang harmonis.

Transformasi tersebut diwujudkan melalui pembentukan karakter yang terbuka terhadap perbedaan, memiliki empati, serta mampu menghargai keberagaman yang ada di sekitarnya.

Selain transformasi pribadi, para peserta juga menyoroti pentingnya transformasi sosial melalui penciptaan ruang-ruang perjumpaan yang memungkinkan masyarakat dari berbagai latar belakang saling berinteraksi dan membangun kepercayaan.

Mereka menilai kepercayaan sosial menjadi fondasi penting bagi lahirnya kolaborasi produktif yang mampu menjawab berbagai persoalan masyarakat.

Tidak hanya membahas hubungan antarumat beragama, sarasehan juga mengangkat isu lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab bersama seluruh umat manusia.

Peserta menilai kepedulian terhadap lingkungan tidak dapat dipisahkan dari nilai-nilai keagamaan karena menjaga alam merupakan bagian dari tanggung jawab manusia kepada Tuhan Sang Pencipta.

Karena itu, kolaborasi lintas agama dan lintas sektor dinilai menjadi salah satu kunci dalam menjaga kelestarian lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Acara tersebut turut dihadiri Dekan FISIP Undip Dr. Drs. Teguh Yuwono, M.Pol.Admin., yang mendukung penguatan ruang dialog lintas iman sebagai bagian dari upaya membangun kehidupan kampus yang inklusif dan harmonis.

Hadir pula sejumlah akademisi dan pimpinan fakultas, termasuk para fungsionaris PUK Undip yang selama ini aktif mendorong dialog dan kerja sama lintas agama di lingkungan kampus.

Sarasehan menghadirkan sejumlah tokoh agama sebagai pembicara, yakni Bahruddin atau Gus Din dari Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah (KBQT) Salatiga, Dewa Artayasa dari PHDI Semarang, Budiyanto, M.Pd. dari kalangan umat Buddha Semarang, Ws. Andi Gunawan, S.T., M.Pd. dari umat Konghucu Semarang, Pdt. Christiono Riyadi, S.I.P., S.Th., M.M. dari Sinode GKJ, serta Romo Ibnu Fajar Muhammad, MSF dari Paroki Semarang Indah.

Kehadiran para tokoh agama dari berbagai keyakinan tersebut memberikan perspektif yang beragam mengenai pentingnya dialog dalam menjaga persatuan bangsa.

Masing-masing narasumber menekankan bahwa perbedaan keyakinan tidak boleh menjadi alasan untuk membangun jarak, melainkan menjadi kesempatan untuk saling belajar dan bekerja sama.

Selain para narasumber, sejumlah tokoh senior PUK Undip seperti Prof. Ari Pradanawati, Prof. Sriyana, Prof. Didik Wisnu Wijayanto, dan Dr. Agung Janika Sitasiwi turut berperan sebagai tim penasihat sekaligus perumus hasil sarasehan.

Tim perumus dipimpin oleh Prof. Widiyanto yang bertugas menyusun berbagai rekomendasi hasil diskusi untuk ditindaklanjuti pada program-program berikutnya.

Sekretaris kegiatan, Nani Kitti Sihaloho, M.S., menjelaskan bahwa hasil diskusi tidak akan berhenti sebagai wacana semata.

“Hasil diskusi dan rekomendasi yang dirumuskan dalam kegiatan tersebut akan menjadi bahan pengembangan program-program kolaboratif di masa mendatang,” ujarnya.

Melalui forum tersebut, PUK Undip menegaskan bahwa toleransi harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Dialog, perjumpaan, dan kolaborasi dinilai menjadi cara efektif untuk memperkuat persaudaraan di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.

Dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika, para peserta berharap kerja sama lintas agama yang terbangun dalam sarasehan ini dapat melahirkan berbagai program yang memberi manfaat langsung bagi masyarakat, sekaligus memperkuat persatuan bangsa di tengah kemajemukan.

 

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *