PATI, JatengSatu.TOP – Laut bukan sekadar tempat mencari nafkah bagi masyarakat pesisir Banyutowo, Kecamatan Dukuhseti, Kabupaten Pati. Laut juga menjadi bagian dari kehidupan yang dijaga dan disyukuri melalui tradisi Sedekah Laut yang kembali digelar pada Kamis (4/6/2026).
Tradisi tahunan tersebut diikuti sekitar 400 nelayan yang memadati kawasan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Banyutowo. Menariknya, kegiatan budaya yang telah berlangsung turun-temurun itu turut mendapat pengawalan dan dukungan dari Pos TNI Angkatan Laut (Posal) Banyutowo di bawah jajaran Pangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal) Semarang.
Kehadiran TNI AL menjadi simbol kuatnya hubungan antara aparat maritim dengan masyarakat pesisir yang selama ini hidup berdampingan dengan laut.
Kegiatan tersebut dilaksanakan atas arahan Komandan Lanal Semarang, Sabprowanto, sebagai bagian dari pembinaan potensi maritim sekaligus memperkuat hubungan dengan masyarakat nelayan.
Sejak pagi, suasana TPI Banyutowo tampak ramai. Nelayan, tokoh masyarakat, perangkat desa, unsur Forkopimcam, hingga aparat keamanan berkumpul mengikuti rangkaian kegiatan yang sarat nilai budaya dan spiritual.
Bagi masyarakat Banyutowo, Sedekah Laut bukan sekadar seremoni tahunan. Tradisi ini merupakan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil tangkapan yang diperoleh selama melaut.
Selain itu, kegiatan tersebut juga menjadi doa bersama agar para nelayan selalu diberikan keselamatan saat menghadapi berbagai tantangan di tengah lautan.
Prosesi puncak ditandai dengan larung sesaji ke laut yang dipimpin Ketua Nelayan Desa Banyutowo, Sugiyono.
Sesaji yang telah didoakan bersama kemudian dibawa ke laut sebagai simbol rasa syukur sekaligus harapan agar hasil tangkapan tetap melimpah dan aktivitas melaut berjalan aman.
Danposal Banyutowo, Dhika Bagus W., mengatakan keterlibatan TNI AL dalam kegiatan tersebut merupakan bentuk kedekatan dengan masyarakat maritim.
Menurutnya, TNI AL tidak hanya hadir dalam tugas pengamanan wilayah laut, tetapi juga berupaya menjaga hubungan yang harmonis dengan masyarakat yang menggantungkan hidupnya dari sektor kelautan.
Kehadiran personel Posal Banyutowo juga menjadi bentuk dukungan terhadap pelestarian tradisi budaya pesisir yang hingga kini masih dijaga oleh masyarakat setempat.
Lebih jauh, kegiatan tersebut menjadi sarana memperkuat komunikasi antara nelayan, pemerintah desa, aparat keamanan, dan berbagai pemangku kepentingan di wilayah pesisir.
Sinergi yang terbangun diharapkan mampu mendukung upaya menjaga keamanan laut sekaligus meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya menjaga ekosistem pesisir.
Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi sektor perikanan, kebersamaan seperti yang terlihat dalam Sedekah Laut Banyutowo dinilai menjadi modal sosial yang penting bagi masyarakat nelayan.
Tradisi ini tidak hanya mengandung nilai religius, tetapi juga memperkuat rasa persaudaraan dan gotong royong di antara warga pesisir.
Selain dihadiri nelayan, kegiatan tersebut juga melibatkan unsur TNI-Polri, Satpolairud, pemerintah desa, serta berbagai elemen maritim lainnya yang selama ini aktif mendukung aktivitas masyarakat pesisir.
Bagi warga Banyutowo, Sedekah Laut menjadi warisan budaya yang harus terus dijaga agar tidak tergerus perkembangan zaman.
Melalui keterlibatan berbagai pihak, termasuk TNI AL, tradisi tersebut diharapkan tetap hidup sebagai identitas masyarakat pesisir sekaligus pengingat pentingnya menjaga hubungan harmonis antara manusia, laut, dan lingkungan sekitarnya.
Di balik prosesi larung sesaji yang sederhana, tersimpan harapan besar para nelayan: laut yang aman, hasil tangkapan yang melimpah, dan kehidupan pesisir yang semakin sejahtera dari tahun ke tahun.




