Bupati Semarang Turun Main Ketoprak, Lakon “Wahyuning Jodho Tebus Kembar Mayang” Jadi Ajang Nguri-uri Budaya Jawa
SEMARANG, JatengSatu.TOP – Ada pemandangan berbeda dalam puncak peringatan Catur Windu sekaligus Ambal Warsa ke-35 DPD Permadani Kabupaten Semarang. Bupati Semarang Ngesti Nugraha tak sekadar duduk di kursi kehormatan, tetapi ikut naik ke panggung memerankan Adipati Dipokusumo dalam pementasan ketoprak berjudul “Wahyuning Jodho Tebus Kembar Mayang”.
Penampilan orang nomor satu di Kabupaten Semarang itu bukan sekadar untuk memeriahkan acara. Bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), ia ingin menunjukkan bahwa pelestarian budaya Jawa membutuhkan keterlibatan semua pihak, termasuk para pemimpin daerah.
Pentas ketoprak yang digelar DPD Permadani Kabupaten Semarang menjadi acara puncak peringatan HUT ke-35 organisasi tersebut. Lakon “Wahyuning Jodho Tebus Kembar Mayang” dimainkan oleh anggota Permadani Banyubiru bersama kelompok seni Bolo Dupak asal Pati, dengan dukungan sejumlah pejabat daerah yang ikut ambil bagian sebagai pemain.
Untuk menambah semarak acara, panitia juga menyiapkan hadiah utama berupa satu unit sepeda motor melalui undian dengan kupon yang dibatasi sebanyak 2.000 lembar.
Ketua Panitia Catur Windu DPD Permadani Kabupaten Semarang, Much Chlizin, mengatakan pementasan ketoprak merupakan bagian dari komitmen organisasi dalam menjaga eksistensi budaya Jawa yang mulai tergerus perkembangan zaman.
“Ini sebenarnya bukan pentas seni, akan tetapi Catur Windu. Jadi ulang tahun Permadani yang ke-35. Namun demikian atas dukungan dari beberapa tokoh masyarakat terutama Forkopimda, ini memang mau mengadakan kegiatan untuk ketoprak. Artinya untuk nguri-uri kebudayaan,” ujarnya sebelum pementasan dimulai.
Menurut Much Chlizin, pelestarian budaya Jawa tidak cukup hanya dilakukan melalui seremoni. Permadani berupaya menghadirkan pertunjukan yang mampu menarik minat masyarakat sekaligus mengenalkan kembali nilai-nilai budaya kepada generasi muda.
Ia mengaku prihatin karena penggunaan bahasa Jawa, terutama tingkatan tutur dalam kehidupan sehari-hari, mulai ditinggalkan.
“Budaya Jawa itu sementara ini kan sudah banyak sekali anak-anak kecil yang kadang bahasa-bahasa Jawa hilang. Sehingga ini bertujuan untuk melestarikan budaya-budaya Jawa, terutama kaitannya dengan budi pekerti atau pelajaran-pelajaran yang ditinggalkan oleh leluhur orang Jawa zaman dulu,” katanya.
Lakon “Wahyuning Jodho Tebus Kembar Mayang” dipilih karena mengandung pesan moral tentang perjuangan, kesabaran, dan tanggung jawab. Cerita tersebut berkisah mengenai putra seorang adipati yang harus memperoleh kembar mayang sebelum mendapatkan jodoh.
Keterlibatan Forkopimda menjadi salah satu daya tarik pementasan. Selain Bupati Semarang yang memerankan Adipati Dipokusumo, sejumlah pejabat daerah juga tampil memainkan peran masing-masing setelah mengikuti latihan bersama.
Bupati Semarang Ngesti Nugraha mengatakan keberadaan Permadani memiliki kontribusi besar dalam menjaga keberlangsungan budaya Jawa di Kabupaten Semarang.
“Malam hari ini puncak peringatan hari ulang tahun DPD Permadani Kabupaten Semarang yang ke-35. Tentunya dengan adanya paguyuban Permadani yang sangat luar biasa ini, yang jumlah anggotanya ada sekitar 7.000 orang, dan juga yang terpenting lagi adalah melestarikan kebudayaan Jawa yang ada di negara kita. Tidak hanya masalah kebudayaannya, tapi juga seninya juga diuri-uri tentunya dengan bersama-sama,” kata Ngesti.
Ia berharap Permadani terus berkembang dan mampu melibatkan lebih banyak generasi muda untuk mempelajari bahasa Jawa Krama Inggil, pranatacara, sopan santun, tata krama, serta pendidikan karakter.
“Kami sangat berharap bahwa nanti DPD Permadani Kabupaten Semarang semakin ngremboko, semakin berkembang, dan juga untuk anak-anak milenial, kawula muda, ini nanti secara bertahap juga akan direkrut oleh Permadani untuk belajar pranatacara, belajar bahasa Jawa Krama Inggil, sopan santun, tata krama, pendidikan karakter anak-anak kita. Ini sangat penting dan ini harus terus kita kembangkan, harus terus kita gelorakan, dan juga kita lestarikan bersama-sama,” ujarnya.
Melalui pementasan ketoprak yang melibatkan seniman dan para pemimpin daerah, Permadani berharap budaya Jawa tidak hanya menjadi warisan masa lalu, tetapi tetap hidup dan dicintai oleh generasi muda di tengah derasnya perkembangan zaman.



