Tradisi Saparan di Lereng Gunung Merbabu, Setiap Rumah Buka Pintu untuk Ratusan Tamu
SEMARANG, JatengSatu.TOP – Tradisi Saparan di lereng Gunung Merbabu memiliki cara unik dalam menjaga silaturahmi. Di Dusun Wates, Desa Wates, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, setiap rumah warga seolah berubah menjadi open house.
Siapa pun yang datang dipersilakan masuk. Namun, ada satu kebiasaan yang tidak boleh dilewatkan. Tamu bukan hanya diajak bersalaman dan berbincang, tetapi juga wajib menikmati hidangan yang telah disiapkan tuan rumah.
Bahkan, warga menyiapkan makanan dalam jumlah besar karena tamu yang datang bisa mencapai ratusan orang.
Tradisi tersebut menjadi bagian dari Merti Dusun Wates yang digelar setiap bulan Sapar dalam kalender Jawa. Bagi warga, Saparan bukan sekadar ritual tahunan, tetapi juga bentuk rasa syukur atas rezeki dan keselamatan sekaligus momentum untuk mempererat persaudaraan.
Ratusan Tamu Datang, Warga Siapkan Makan Besar
Istichomah, warga Dusun Wates, mengatakan makanan menjadi bagian penting dalam pelaksanaan Saparan. Setiap keluarga biasanya sudah mempersiapkan berbagai menu untuk menjamu saudara, teman, sahabat, hingga tamu dari luar dusun.
Di rumahnya, jumlah tamu yang datang diperkirakan mencapai sekitar 200 orang.
“Kalau tempat saya sekitar 200-an tamu. 200 orang. Sama teman, sama sahabat,” kata Istichomah.
Beragam hidangan disiapkan. Mulai dari empal daging, sambal goreng hati, telur balado, sup daging hingga bakso.
Hidangan berkuah menjadi salah satu pilihan warga untuk menjamu tamu. Maklum, Dusun Wates berada di kawasan lereng Gunung Merbabu dengan udara yang cenderung dingin.
Namun, bagi warga, banyaknya makanan yang disiapkan bukan persoalan. Menjamu tamu justru menjadi bagian dari kebahagiaan dan ungkapan rasa syukur.
“Kalau Saparan itu kegiatannya yang penting, filosofi awalnya adalah setelah bersih desa kita berpesta desa. Tadi sudah bersih makam, bersih sungai, itu bersih desa. Nah, pesta itu kan mengundang, bersyukurlah. Bersyukur itu mengundang saudara, mengundang teman, mengundang sahabat untuk berkumpul bersama,” ujar Istichomah yang juga Kepala Dinas Sosial Kabupaten Semarang.
Karena itu, jamuan dalam tradisi Saparan bukan sekadar jajanan atau kudapan.
“Harus makan besar,” tegasnya.
Jadah dan Wajik Punya Filosofi Persatuan
Selain berbagai menu makanan berat, ada dua hidangan tradisional yang selalu menjadi bagian penting dalam tradisi Saparan, yakni jadah dan wajik atau jenang.
Jadah berbahan dasar ketan dan memiliki warna putih. Sementara wajik atau jenang memiliki warna lebih gelap.
Kedua makanan tersebut bukan hanya menjadi sajian dalam kenduri. Warga juga meyakini adanya filosofi yang terkandung di balik keberadaan jadah dan wajik.
Istichomah menjelaskan jadah memiliki makna sebagai perekat. Sementara perpaduan warna putih dan gelap menggambarkan sesuatu yang berbeda tetapi tetap dapat menyatu.
“Karena itu satu untuk perekat. Kemudian yang kedua menunjukkan antara putih dan hitam itu menyatu. Itu jadi satu. Jadi mesti ada jadahnya juga harus ada wajiknya atau ada jenangnya,” jelasnya.
Filosofi tersebut membuat makanan dalam tradisi Saparan memiliki makna lebih dalam. Hidangan tidak hanya menjadi sajian bagi tamu, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan, persatuan dan rasa syukur masyarakat.
Saparan Wates Digelar Setiap Senin Kliwon Bulan Sapar
Gunawan Tri Rahmadi, warga Dusun Wates yang juga anggota DPRD Kabupaten Semarang, menjelaskan Saparan berkaitan dengan hari jadi atau Merti Dusun.
Pelaksanaannya berlangsung pada bulan Sapar berdasarkan kalender Jawa. Namun, setiap dusun memiliki waktu yang berbeda sesuai penanggalan yang digunakan masyarakat setempat.
“Kalau Saparan ini ibaratnya hari jadi, hari jadi desanya sendiri itu kan pas mereka rata-rata jatuh di bulan Sapar. Makanya disebut Saparan,” kata Gunawan.
Menurutnya, tidak semua wilayah menggelar tradisi serupa pada bulan Sapar. Ada pula tradisi yang dilaksanakan pada bulan Rajab dan dikenal sebagai Rejeban.
Untuk Dusun Wates, Merti Dusun dilaksanakan pada Senin Kliwon di bulan Sapar.
“Dusun Wates ini harinya Senin Kliwon. Jadi setiap bulan Sapar, Senin Kliwon ini yang kita ambil sebagai hari merti dusunnya,” ujarnya.
Tradisi tersebut terus dipertahankan dari generasi ke generasi. Selain menjadi bentuk rasa syukur, Saparan juga menjadi kesempatan bagi warga untuk kembali bertemu dengan keluarga, teman dan kerabat.
Rumah Warga Jadi Open House, Tamu Wajib Makan
Suasana Saparan di Dusun Wates terasa seperti pesta desa. Rumah-rumah warga terbuka bagi tamu yang datang silih berganti.
Tamu tidak harus berasal dari satu lingkungan. Saudara, teman, sahabat, bahkan orang dari luar dusun dapat datang untuk bersilaturahmi.
Konsep tersebut membuat rumah warga layaknya open house.
“Open house. Banyak tamu. Dan wajib makan,” kata Gunawan.
Setiap keluarga memang memiliki menu dan jumlah hidangan yang berbeda. Semua disesuaikan dengan kemampuan masing-masing.
Namun, ada satu semangat yang sama, yakni menyediakan makanan untuk tamu yang datang.
“Setiap rumah beda-beda. Tapi rata-rata kalau kita ngomong sekarang ini adalah MBG (makan bergizi gratis) swadaya. Ini jelas makanan bergizi gratis bener-bener,” ujarnya.
Tamu Bisa Datang hingga Dini Hari
Banyaknya rumah yang membuka pintu membuat jumlah tamu dalam tradisi Saparan tidak sedikit.
Jika seluruh tamu yang datang ke rumah-rumah warga dihitung, jumlahnya bisa mencapai ratusan bahkan ribuan orang.
Gunawan mengatakan rumahnya sendiri bisa menerima lebih dari 400 tamu.
“Ya 400-an lebih lah. Di tempat saya tamu-tamu biasa berkunjung sampai dini hari nanti,” katanya.
Tamu datang bergantian dari satu rumah ke rumah lainnya. Warga pun dengan sukarela menerima mereka dan memastikan tidak ada tamu yang pulang sebelum menikmati hidangan.
Kebiasaan tersebut membuat makanan menjadi bagian penting dalam menjaga hubungan sosial masyarakat Dusun Wates.
Pertemuan yang mungkin sulit dilakukan pada hari biasa menjadi lebih mudah ketika Saparan tiba. Rumah warga menjadi ruang terbuka, sedangkan meja makan menjadi tempat berkumpul dan berbincang.
Tradisi Saparan Tetap Hidup di Lereng Merbabu
Di tengah perkembangan zaman, warga Dusun Wates masih berupaya mempertahankan tradisi Saparan.
Bagi masyarakat setempat, tradisi tersebut bukan sekadar agenda tahunan. Saparan menjadi bagian dari kehidupan sosial sekaligus warisan budaya yang terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Gunawan mengatakan masyarakat masih memiliki kepedulian untuk menjaga tradisi yang sudah berlangsung turun-temurun.
“Pelestarian dengan penekanan terhadap tradisi ini masih masyarakat itu masih ngemong,” ujarnya.
Tradisi Saparan di Dusun Wates akhirnya tidak hanya berbicara tentang bulan Sapar. Ada kegiatan bersih makam dan sungai, ada kebersamaan, ada rumah yang terbuka bagi tamu, serta ada hidangan yang disiapkan dengan penuh rasa syukur.
Jadah menjadi simbol perekat. Wajik atau jenang menggambarkan perbedaan yang tetap dapat menyatu. Sementara makan besar menjadi bentuk keramahan sekaligus ungkapan syukur warga.
Dari rumah ke rumah, ratusan tamu datang dan bersilaturahmi. Tradisi itu pun terus hidup di lereng Gunung Merbabu, menjadi bukti bahwa warisan budaya dapat bertahan ketika masyarakat masih mau merawat dan menjalankannya bersama-sama.



