Bos Gojek Buka Suara soal Komisi Ojol 8 Persen, GoTo Siapkan Strategi Baru

 

Bos Gojek Akui Aturan Komisi Ojol 8 Persen Bakal Tekan Bisnis, GoTo Andalkan Fintech Jadi Penyelamat

JAKARTA. JatengSatu.TOP – Kebijakan pemerintah yang memangkas komisi aplikasi ojek online (ojol) menjadi maksimal 8 persen dipastikan akan berdampak pada bisnis PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GoTo). Presiden Direktur GoTo, Hans Patuwo, mengakui kontribusi dari lini bisnis layanan on-demand, termasuk Gojek, diperkirakan akan menurun setelah aturan tersebut resmi berlaku.

Meski demikian, Hans memastikan perusahaan telah menyiapkan strategi untuk menjaga kinerja dengan mengandalkan pertumbuhan bisnis teknologi finansial (fintech) sebagai mesin pendapatan baru.

“Struktur komisi baru mulai berlaku pada 1 Juli 2026. Dampaknya akan mulai terlihat pada laporan keuangan kuartal III. Setelah satu bulan implementasi, kondisi bisnis kami masih stabil,” kata Hans saat memaparkan kinerja semester pertama 2026.

Ia mengatakan, penyesuaian terhadap regulasi baru memang menjadi tantangan bagi perusahaan. Namun, GoTo tetap mempertahankan target EBITDA Grup yang disesuaikan pada 2026 di kisaran Rp3,2 triliun hingga Rp3,4 triliun.

Menurut Hans, berkurangnya kontribusi dari bisnis transportasi online akan dikompensasi oleh pertumbuhan yang jauh lebih cepat dari sektor layanan keuangan digital yang selama beberapa tahun terakhir terus menunjukkan tren positif.

GoTo Tetap Untung di Tengah Aturan Baru

Di tengah perubahan aturan industri transportasi online, GoTo justru mencatatkan kinerja keuangan yang solid pada semester pertama 2026.

Perusahaan membukukan laba bersih Rp252 miliar pada kuartal II 2026 setelah sebelumnya meraih laba Rp171 miliar pada kuartal I. Hasil tersebut menjadikan GoTo mencetak keuntungan selama dua kuartal berturut-turut untuk pertama kalinya.

Tak hanya itu, Gross Transaction Value (GTV) inti melonjak 83 persen secara tahunan menjadi Rp164 triliun. Pendapatan bersih juga meningkat 31 persen menjadi Rp5,7 triliun, sementara EBITDA Grup yang disesuaikan menembus Rp1 triliun untuk pertama kalinya.

“Kami mencetak laba bersih selama dua kuartal berturut-turut. EBITDA Grup yang disesuaikan meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun lalu dan untuk pertama kalinya melampaui Rp1 triliun,” ujar Hans.

GoPay Kini Jadi Mesin Uang Baru GoTo

Jika sebelumnya Gojek menjadi tulang punggung bisnis perusahaan, kini peran tersebut mulai bergeser ke layanan keuangan digital.

Sepanjang kuartal II 2026, segmen fintech mencatat EBITDA yang disesuaikan sebesar Rp481 miliar atau melonjak 447 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pendapatan bersihnya naik 53 persen hingga menembus Rp2 triliun.

Jumlah pengguna aktif bulanan yang bertransaksi mencapai 28,8 juta, naik 29 persen dibandingkan tahun lalu. Total transaksi juga melesat 91 persen menjadi 2,4 miliar transaksi.

Kinerja itu menjadikan bisnis fintech sebagai penyumbang profitabilitas terbesar GoTo, melampaui bisnis transportasi online untuk pertama kalinya.

Program Mitra Tetap Berjalan

Di tengah penyesuaian terhadap aturan komisi baru, GoTo memastikan berbagai program untuk mitra pengemudi tetap dilanjutkan.

Program tersebut meliputi perlindungan BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan, beasiswa pendidikan bagi keluarga mitra, hingga program umrah gratis melalui Program Apresiasi Mitra.

Hans menegaskan pertumbuhan perusahaan harus tetap berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan mitra pengemudi, pelaku UMKM, dan seluruh ekosistem GoTo.

 

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *