Tradisi Haul Ki Ageng Wonokusumo Kembali Meriah, Ribuan Warga Berebut Gunungan

 

SEMARANG, JatengSatu.TOP – Ribuan warga dari berbagai daerah memadati Desa Cukilan, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang, untuk mengikuti Haul Ki Ageng Wonokusumo, Jumat (31/7/2026). Tradisi tahunan yang digelar untuk mengenang tokoh pendiri Desa Cukilan itu kembali berlangsung semarak dengan rangkaian acara khas yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Tak hanya diikuti warga setempat, haul juga menarik kedatangan peziarah dari berbagai wilayah di Kabupaten Semarang hingga luar daerah. Mereka datang untuk berziarah, mengikuti doa bersama, sekaligus berharap memperoleh berkah dari tradisi yang telah berlangsung selama puluhan tahun tersebut.

Daya tarik utama haul tahun ini adalah tradisi seribu ingkung ayam. Setiap keluarga di Desa Cukilan membawa satu ingkung sebagai wujud syukur sekaligus penghormatan kepada Ki Ageng Wonokusumo. Setelah didoakan bersama, seluruh ingkung dibagikan kepada masyarakat dan tamu yang hadir.

Selain seribu ingkung, panitia juga mengarak tiga gunungan hasil bumi yang berisi aneka sayuran, buah-buahan, cabai, umbi-umbian, hingga berbagai bahan pangan hasil panen warga. Begitu gunungan tiba di lokasi acara, ribuan warga langsung merangsek untuk mendapatkan isinya.

Antusiasme masyarakat begitu tinggi. Bahkan sebelum doa bersama selesai dipanjatkan, tiga gunungan hasil bumi sudah lebih dahulu habis diperebutkan warga yang memadati halaman makam.

Rangkaian haul juga diisi dengan prosesi ganti lawon atau pergantian kain penutup makam Ki Ageng Wonokusumo. Prosesi sakral tersebut menjadi simbol penghormatan kepada leluhur sekaligus wujud pelestarian tradisi yang masih dijaga masyarakat Desa Cukilan hingga sekarang.

Camat Suruh, Vega Lazuardi, mengatakan Haul Ki Ageng Wonokusumo bukan sekadar agenda keagamaan, tetapi juga menjadi media untuk menjaga nilai kebersamaan yang diwariskan para pendahulu.

“Ini merupakan tradisi rutin masyarakat untuk menghargai dan mengenang jasa-jasa para pendahulu, khususnya Ki Ageng Wonokusumo yang juga merupakan pendiri Desa Cukilan. Beliau meletakkan pondasi bagaimana masyarakat bisa hidup rukun dan guyub sampai sekarang,” katanya.

Menurut Vega, nilai gotong royong yang diwariskan Ki Ageng Wonokusumo masih terasa kuat di tengah masyarakat. Hal itu terlihat dari keterlibatan seluruh warga dalam menyiapkan rangkaian haul setiap tahunnya.

Ia juga menyoroti keunikan tradisi seribu ingkung yang tidak banyak ditemui di daerah lain.

“Setiap rumah membawa ingkung dan nanti dibagi-bagikan. Hari ini bisa dibilang hari pembantaian ayam nasional tingkat Cukilan. Jadi kambing dan sapi hari ini berbahagia karena tidak dipotong,” ujarnya berseloroh yang disambut tawa masyarakat.

Vega mengungkapkan Pemerintah Kabupaten Semarang memberikan apresiasi terhadap masyarakat Desa Cukilan yang tetap menjaga tradisi di tengah perubahan zaman. Sebagai bentuk dukungan, Pemkab Semarang telah mengalokasikan dana hibah untuk pemugaran Makam Ki Ageng Wonokusumo melalui persetujuan Bupati Semarang bersama DPRD.

Tak hanya itu, Pemerintah Kecamatan Suruh juga telah mengusulkan Haul Ki Ageng Wonokusumo masuk dalam Kalender Event Pariwisata Kabupaten Semarang.

“Kami sudah menyampaikan kepada Dinas Pariwisata agar event rutin seperti ini masuk kalender wisata sehingga dapat menjadi alternatif wisata budaya di Kabupaten Semarang,” jelasnya.

Salah seorang pengunjung, Cici Anggoro, mengaku rutin datang setiap tahun bersama dua rekannya dari Kecamatan Pabelan. Menurutnya, Haul Ki Ageng Wonokusumo memiliki banyak tradisi unik yang membuatnya selalu ingin kembali.

“Alhamdulillah saya dapat sawi putih dan cabai. Tadi ingin mengambil belimbing, tetapi tidak sampai karena terlalu tinggi. Yang unik di sini ada sekitar seribu ingkung. Satu kaki ayam dari setiap ingkung disajikan untuk tamu dan selalu cukup. Selain itu, sumber air di sini juga tidak pernah habis meski diambil banyak orang,” tuturnya.

Pengunjung lainnya, Biyati, bersyukur dapat mengikuti ziarah sekaligus memperoleh nasi kuning dari puncak gunungan.

“Saya setiap tahun datang ke sini. Alhamdulillah tadi mendapat nasi kuning yang paling atas. Semoga membawa rezeki dan keberkahan untuk keluarga,” katanya.

Hal senada disampaikan Dwi Aena. Ia mengaku sengaja datang karena suasana haul selalu meriah.

“Alhamdulillah saya dapat nanas. Nanti mau dibuat rujak. Semoga tahun depan bisa ikut lagi,” ujarnya.

Dengan tradisi seribu ingkung, arak-arakan gunungan hasil bumi, ritual ganti lawon, serta ribuan peziarah yang datang setiap tahun, Haul Ki Ageng Wonokusumo kini berkembang bukan hanya sebagai tradisi religi, tetapi juga memiliki potensi besar menjadi salah satu ikon wisata budaya di Kabupaten Semarang.

 

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *