MPLS SD Islam Primadana Semarang Latih Siswa Hadapi Bencana, Sirene Meraung dan Korban Bergelimpangan
SEMARANG, JatengSatu.TOP – MPLS SD Islam Primadana Semarang tahun ini menghadirkan pengalaman yang tak terlupakan bagi para siswa baru. Suara sirene yang meraung tiba-tiba memecah keheningan sekolah. Dalam hitungan detik, ratusan siswa berhamburan keluar aula menuju titik evakuasi, sementara sejumlah “korban” tampak bergelimpangan dengan luka di kepala, tangan, kaki hingga dugaan patah tulang.
Suasana mencekam itu membuat para siswa sempat tegang. Namun, mereka tidak larut dalam kepanikan. Siswa yang telah mendapatkan pembekalan langsung memberikan pertolongan pertama kepada teman-temannya sesuai prosedur penyelamatan.
Beruntung, seluruh kejadian tersebut hanyalah simulasi mitigasi bencana yang digelar SD Islam Primadana Semarang bersama Taruna Siaga Bencana (Tagana) Dinas Sosial Kota Semarang dalam rangkaian Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), Kamis (16/7/2026).
MPLS SD Islam Primadana Semarang Bekali Siswa Keterampilan Mitigasi Bencana
Sebelum simulasi dimulai, seluruh peserta mengikuti pembelajaran mengenai potensi bencana yang berpeluang terjadi di Kota Semarang. Mereka dikenalkan berbagai jenis bencana, cara menyelamatkan diri, prosedur evakuasi, hingga teknik memberikan pertolongan pertama kepada korban.
Saat sirene dibunyikan, para siswa langsung bergerak mengikuti jalur evakuasi yang telah ditentukan. Di lokasi simulasi, beberapa siswa berperan sebagai korban dengan berbagai kondisi cedera.
Siswa lainnya kemudian mempraktikkan materi yang baru diterima. Mereka membersihkan luka, memasang perban, membidai korban yang mengalami dugaan patah tulang, hingga mengevakuasi korban menggunakan tandu menuju tenda darurat.
Seluruh rangkaian dibuat menyerupai kondisi bencana sebenarnya agar siswa memahami langkah-langkah yang harus dilakukan ketika menghadapi situasi darurat.
Kepala Sekolah: Anak Harus Siap Menghadapi Bencana Sejak Dini
Kepala SD Islam Primadana, Musino, mengatakan pendidikan mitigasi bencana sengaja dimasukkan ke dalam agenda MPLS agar peserta didik memiliki bekal menghadapi kondisi darurat sejak hari pertama masuk sekolah.
“Kami berkolaborasi dengan Dinas Sosial Kota Semarang, khususnya Tagana, melalui kegiatan Tagana Go to School. Anak-anak sejak dini kami berikan edukasi dan mitigasi tentang berbagai bencana yang berpotensi terjadi di Kota Semarang. Ini menjadi pembelajaran yang sangat luar biasa karena sifatnya implementatif, bukan hanya teori,” ujarnya.
Menurut Musino, pembelajaran diawali dengan pemberian materi di dalam kelas, kemudian dilanjutkan simulasi lapangan agar siswa mampu mempraktikkan setiap tahapan penyelamatan.
“Anak-anak mendapatkan materi terlebih dahulu tentang mitigasi bencana. Setelah itu mereka praktik langsung bagaimana melakukan evakuasi, bagaimana memberikan pertolongan pertama, sampai bagaimana menangani korban ketika terjadi bencana,” katanya.
Ia menilai pendidikan kebencanaan menjadi kebutuhan penting karena anak-anak termasuk kelompok yang rentan ketika terjadi bencana.
“Kalau terjadi bencana, yang menjadi korban bukan hanya orang dewasa. Anak-anak juga bisa menjadi korban. Karena itu mereka harus mengenal sejak dini bagaimana menyelamatkan diri, bagaimana paling tidak mengatasi dirinya sendiri ketika menghadapi bencana,” jelasnya.
Musino menambahkan, materi tersebut sangat relevan mengingat Kota Semarang merupakan salah satu daerah yang memiliki potensi bencana, terutama banjir yang hampir setiap tahun terjadi.
“Kota Semarang termasuk daerah yang rawan bencana, khususnya banjir. Dengan edukasi ini harapannya anak-anak mengetahui langkah-langkah mitigasi sehingga penanganan pertama dapat dilakukan dengan benar ketika menghadapi situasi darurat,” ujarnya.
Tagana Tanamkan Budaya Sadar Bencana kepada Siswa
Seksi Pendidikan dan Pelatihan Tagana Kota Semarang, Heri Sasongko, mengatakan edukasi kebencanaan merupakan investasi jangka panjang untuk membentuk masyarakat yang tangguh menghadapi bencana.
“Kegiatan pra-bencana ini mengajarkan kepada anak-anak bahwa yang terpenting bukan sekadar menjauhi bencana, tetapi bagaimana mengurangi risiko bencana sekecil mungkin,” katanya.
Selain teknik evakuasi dan pertolongan pertama, siswa juga dibekali materi dukungan psikososial agar mampu mengendalikan diri ketika menghadapi bencana.
“Kami juga mengajarkan bagaimana anak-anak tidak trauma ketika terjadi bencana. Harapannya setelah bencana mereka mampu bangkit, bisa menjadi penolong, dan tidak justru menjadi beban bagi tim penyelamat,” ujarnya.
Menurut Heri, program edukasi mitigasi bencana akan terus diperluas ke berbagai jenjang pendidikan hingga masyarakat melalui pembentukan Kampung Siaga Bencana (KSB).
“Kami ingin budaya sadar bencana tumbuh sejak usia dini. Semakin cepat anak-anak memahami mitigasi bencana, semakin besar peluang mereka menyelamatkan diri maupun membantu orang lain ketika menghadapi situasi darurat,” pungkasnya.
Melalui simulasi yang dikemas realistis, MPLS SD Islam Primadana Semarang tidak hanya menjadi ajang pengenalan lingkungan sekolah, tetapi juga membekali siswa dengan keterampilan penyelamatan diri, kepedulian terhadap sesama, kemampuan bekerja sama, dan ketenangan dalam menghadapi kondisi darurat.



