Teror Deepfake AI Diduga Sasar 7 Orang, Jejak Pelaku Mulai Terbaca
SEMARANG, JatengSatu.TOP – Kasus dugaan pelecehan digital menggunakan teknologi deepfake AI di Jawa Tengah diduga lebih luas dari satu korban. Sedikitnya tujuh orang disebut mengalami manipulasi foto maupun video bermuatan seksual.
Dugaan tersebut terungkap setelah seorang mahasiswi PTN di Surakarta berinisial E melaporkan kasus yang dialaminya ke Dittipidsiber Polda Jawa Tengah.
Kuasa hukum E, Zainal Petir, mengatakan enam korban lain yang diduga mengalami manipulasi merupakan teman E saat bersekolah di SMAN 1 Cepu, Kabupaten Blora.
“Menurut keterangan E, ada 6 korban lain yang dimanipulasi. Kesemuanya teman satu SMAN Cepu, Blora,” kata Zainal.
Dari tujuh orang tersebut, empat di antaranya disebut merupakan mahasiswi perguruan tinggi di Semarang. Sementara tiga lainnya berada di Solo, termasuk E.
Konten yang diduga menyerang para korban memiliki pola serupa. Foto maupun video disebut dimanipulasi menggunakan AI sehingga wajah korban ditempelkan pada tubuh atau adegan yang tidak pernah mereka lakukan.
Kasus tersebut kini menjadi perhatian karena para korban tidak hanya menghadapi penyalahgunaan identitas digital, tetapi juga ancaman terhadap nama baik dan kondisi psikologis.
Di sisi lain, penyidik Siber Polda Jawa Tengah disebut mulai menelusuri siapa pihak di balik dugaan manipulasi dan penyebaran konten tersebut.
Zainal menyebut penyidik telah melakukan profiling. Dari petunjuk yang diperoleh, dugaan mengenai pihak yang berada di balik kasus tersebut mulai mengerucut.
“Dari hasil profiling yang dilakukan penyidik, para korban diketahui saling mengenal karena pernah bersekolah satu SMA, yakni SMAN 1 Cepu,” jelas Zainal.
Ia menduga pihak yang menjadi arah penyelidikan merupakan seorang mahasiswa. Namun, Zainal tidak menyebut identitas orang tersebut dan menyerahkan proses pengungkapan kepada penyidik.
“Saya yakin penyidik bisa mengungkap kasus ini karena petunjuk-petunjuknya sudah cukup jelas,” ungkap Zainal.
Zainal menegaskan identitas pihak yang diduga terlibat tidak boleh disimpulkan sebelum proses penyelidikan selesai. Karena itu, ia meminta publik menunggu hasil pemeriksaan kepolisian.
“Namun untuk identitas pelaku, kita serahkan sepenuhnya kepada penyidik sampai proses penyelidikan selesai,” tegasnya.
Ia juga meminta Dittipidsiber Polda Jawa Tengah mengusut kasus tersebut secara maksimal. Menurutnya, dugaan banyaknya korban menunjukkan kasus ini tidak bisa dilihat sebagai persoalan pribadi semata.
“Saya minta supaya Direktur Siber Polda Jawa Tengah untuk segera bekerja maksimal. Petunjuk-petunjuk sudah sangat jelas. Saya yakin pelaku akan terungkap,” katanya.
Saat ini, penyidik masih melanjutkan proses penyelidikan. Pemeriksaan saksi disebut menjadi salah satu tahapan berikutnya setelah proses profiling dilakukan.
Belum ada penetapan tersangka dalam kasus tersebut. Pihak yang diduga berada di balik manipulasi dan penyebaran konten masih harus dibuktikan melalui proses penyelidikan dan hukum yang berlaku.



