Kekeringan Mengancam, Bupati Ngesti Perkuat Ketahanan Pangan Kabupaten Semarang
SEMARANG, JatengSatu.TOP – Ancaman kekeringan dan krisis air bersih di tengah musim kemarau membuat Pemerintah Kabupaten Semarang memperkuat strategi ketahanan pangan. Bupati Semarang Ngesti Nugraha mendorong pertanian tidak hanya mengejar produksi, tetapi juga beradaptasi dengan perubahan cuaca, menggunakan teknologi, serta menyiapkan generasi muda sebagai penerus petani.
Penguatan ketahanan pangan tersebut menjadi penting karena sektor pertanian Kabupaten Semarang kini menghadapi sejumlah tantangan sekaligus. Mulai dari anomali cuaca, potensi kekeringan, degradasi lahan, hingga semakin sedikitnya anak muda yang tertarik terjun ke dunia pertanian.
Ngesti mengatakan, salah satu kunci menghadapi persoalan tersebut adalah meningkatkan sumber daya manusia sekaligus mengubah pola pertanian menjadi lebih modern.
“Terkait dengan peningkatan sumber daya manusia para petani kita, terutama bagaimana kita mengedukasi anak-anak muda milenial ini mau terjun di pertanian. Tentunya pertanian yang modern,” kata Ngesti.
Teknologi Pertanian Jadi Andalan
Menurut Ngesti, modernisasi pertanian harus dibarengi dengan penataan lahan. Salah satunya melalui penataan kawasan terasering agar lahan dapat menjadi hamparan yang lebih luas dan memudahkan penggunaan alat mesin pertanian (alsintan).
Pemkab Semarang juga telah mendorong pemanfaatan berbagai teknologi pertanian. Bantuan alsintan yang tersedia antara lain drone, transplanter, dan mini combine untuk panen padi.
Ngesti meminta peralatan tersebut digunakan secara maksimal untuk menekan biaya produksi petani.
Ia mencontohkan penggunaan transplanter untuk penanaman padi. Dalam satu hektare lahan, biaya yang sebelumnya mencapai sekitar Rp3,2 juta dapat ditekan menjadi sekitar Rp2,1 juta.
“Ini sudah efisiensinya 30 persen,” ujarnya.
Efisiensi tersebut, kata Ngesti, akan semakin terasa jika penggunaan teknologi pertanian diterapkan pada lahan dengan hamparan yang lebih luas.
Kemarau Bawa Ancaman Kekeringan dan Kebakaran
Di sisi lain, musim kemarau juga meningkatkan risiko bencana di Kabupaten Semarang. Selain kekeringan, potensi kebakaran menjadi perhatian pemerintah daerah.
Ngesti mengatakan Pemkab Semarang telah menyiapkan langkah untuk membantu masyarakat yang mengalami kesulitan mendapatkan air bersih.
“Kalau kekeringan khususnya untuk air minum, air bersih masyarakat kami ada persediaan. Seandainya ada masyarakat yang kekurangan air bersih bisa nanti komunikasi langsung dengan BPBD, akan nanti kita bantu dropping air bersihnya,” jelasnya.
Masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran selama musim kemarau. Sosialisasi dan pencegahan perlu dilakukan bersama-sama agar kebakaran tidak berkembang dan menimbulkan kerugian lebih besar.
Selain kekeringan dan kebakaran, sejumlah wilayah Kabupaten Semarang juga menghadapi potensi tanah bergerak dan longsor.
Ngesti mencontohkan tanah bergerak di Desa Kalongan, Kecamatan Ungaran Timur, yang hingga kini masih menjadi perhatian.
“Ini juga perlu menjadi perhatian kita bersama,” katanya.
199 Bencana Terjadi hingga Juli 2026
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Semarang Alexander Gunawan Tribiantoro mengatakan ketahanan pangan tidak bisa dipisahkan dari ketahanan masyarakat dalam menghadapi bencana.
“Saat ini Kabupaten Semarang itu rentan dengan potensi ancaman bencana. Sampai dengan bulan Juli ini sudah terjadi 199 kejadian bencana,” kata Alexander.
Menurutnya, masyarakat merupakan garda terdepan dalam menghadapi berbagai ancaman bencana. Karena itu, BPBD Kabupaten Semarang terus memperkuat Desa Tangguh Bencana (Destana).
Alexander menyebut pada 2024 Kabupaten Semarang baru memiliki 24 Destana. Jumlah tersebut kemudian meningkat menjadi 112 desa pada 2026.
Penguatan desa tangguh bencana dilakukan melalui inovasi Sadewa, yakni Strategi Deteksi, Edukasi, dan Waspada Bencana Berbasis Pentahelix dan Digitalisasi Menuju Desa Tangguh Bencana.
“Fokus dari inovasi kami adalah bagaimana kita melakukan orkestrasi kolaborasi pentahelix. Pemerintah, akademi, dunia usaha, masyarakat dan media berkolaborasi membangun satu sinergi ekosistem yang baik untuk bisa membangun wilayah Kabupaten Semarang tanggap dan tangguh terhadap bencana secara berkelanjutan,” ujarnya.
Untuk Desa Kemetul, Kecamatan Susukan, potensi yang perlu diwaspadai antara lain angin kencang dan longsor. BPBD mendorong pembentukan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) di desa untuk memperkuat kesiapsiagaan masyarakat.
Petani Muda Makin Sedikit
Persoalan lain yang mengancam keberlanjutan ketahanan pangan adalah regenerasi petani.
Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Pangan (Dispertankap) Kabupaten Semarang Edy Sukarno mengatakan sektor pertanian semakin didominasi petani berusia tua. Sementara minat generasi muda untuk masuk ke sektor tersebut masih rendah.
“Semakin lama semakin didominasi petani tua sehingga anak-anak muda kita tinggal 11,8 persen yang mau berkecimpung di sektor pertanian,” ungkap Edy.
Padahal, sektor pertanian saat ini juga menghadapi tantangan anomali cuaca dan krisis air bersih.
Karena itu, Edy menilai Kabupaten Semarang membutuhkan transformasi kebijakan dan inovasi untuk memperkuat ketahanan pangan.
Ia menawarkan konsep Pangan Berdikari melalui sejumlah intervensi, mulai dari pemulihan lahan hingga regenerasi petani.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah mendorong agroekosistem terintegrasi berbasis kawasan. Petani diarahkan menggunakan metode semi organik dan hayati untuk memulihkan kesuburan tanah yang mengalami degradasi.
Petani juga didorong menanam secara serempak untuk mengantisipasi serangan hama.
Selain itu, Dispertankap menyiapkan Sikepang atau Sistem Informasi Ketahanan Pangan Daerah Kabupaten Semarang. Sistem ini nantinya digunakan untuk memantau secara real time luas tanam, hasil panen, hingga ketersediaan beras di daerah.
Sekolah Pangan Lestari Disiapkan
Regenerasi petani juga menjadi perhatian. Edy mengatakan kelompok tani perlu diperkuat agar tidak hanya berfungsi sebagai wadah pengelolaan lahan, tetapi juga mampu berkembang menjadi unit usaha dan mengakses kemitraan perbankan.
Pemkab Semarang juga akan mendorong Sekolah Pangan Lestari sebagai upaya mendekatkan generasi muda dengan sektor pertanian.
Harapannya, anak-anak muda tidak lagi memandang pertanian sebagai pekerjaan tradisional, melainkan sektor yang dapat dikelola dengan teknologi dan memiliki prospek ekonomi.
Desa Kemetul Kembangkan Padi Semi Organik
Penguatan ketahanan pangan juga mulai dilakukan dari tingkat desa. Desa Kemetul menjadi salah satu contoh melalui pengembangan padi semi organik menuju beras sehat.
Kepala Desa Kemetul Agus Sudibyo mengatakan pengembangan padi tersebut didukung sumber pengairan yang berasal langsung dari mata air. Selain mengejar produktivitas, langkah tersebut dilakukan karena adanya keprihatinan terhadap kondisi kesehatan tanah.
Saat ini terdapat demplot seluas 10 hektare yang melibatkan sekitar 21 petani.
Hasil produksinya menunjukkan peningkatan. Sebelumnya produktivitas padi berada di kisaran 6,7 ton per hektare. Dalam panen terakhir, hasil terbaik yang diukur BPS mencapai 9,024 ton per hektare, sedangkan hasil terendah sekitar 8,2 ton per hektare.
Agus berharap peningkatan produktivitas tersebut diikuti peningkatan kesejahteraan petani melalui nilai jual yang lebih tinggi.
“Kami mendorong kesejahteraan petani. Jadi, baik peningkatan hasil tonase dan juga hasil dari penjualan yang lebih tinggi,” ujarnya.
Ke depan, Desa Kemetul tidak ingin hasil pertanian hanya dijual dalam bentuk gabah. Produk tersebut diharapkan dapat diolah dan dipasarkan sebagai beras sehingga nilai tambahnya bisa lebih banyak dinikmati petani.
Saat ini pemasaran beras semi organik tersebut masih terbatas di wilayah Kota Semarang melalui jaringan dan relasi.
Ketahanan Pangan Harus Dimulai dari Desa
Berbagai langkah tersebut menunjukkan bahwa strategi ketahanan pangan Kabupaten Semarang tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi.
Pemerintah daerah juga mulai memperkuat kesiapan menghadapi kekeringan dan bencana, menjaga ketersediaan air bersih, memulihkan kondisi tanah, mengurangi biaya produksi melalui teknologi, serta menyiapkan generasi muda sebagai penerus sektor pertanian.
Dengan strategi tersebut, ketahanan pangan Kabupaten Semarang diharapkan semakin kuat menghadapi musim kemarau, perubahan iklim, dan tantangan regenerasi petani.
Pada akhirnya, ketahanan pangan bukan hanya soal seberapa banyak hasil panen yang diperoleh, tetapi juga bagaimana petani, lahan, air, teknologi, dan generasi penerus dapat dipersiapkan secara berkelanjutan.



