Krisis Air Bersih Melanda Kabupaten Semarang, 275 Tangki Sudah Disalurkan

 

Kekeringan Kabupaten Semarang Makin Parah, Warga Beli Air Bersih Rp5.000 per Galon

SEMARANG, JatengSatu.TOP – Kemarau panjang membuat krisis air bersih di Kabupaten Semarang semakin terasa. Warga Dusun Bulu, Desa Dadapayam, Kecamatan Suruh, bahkan harus membeli air isi ulang seharga Rp5.000 per galon untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Sumur-sumur warga mengering setelah hujan tak turun selama berbulan-bulan. Kondisi ini membuat warga harus mencari sumber air bersih ke luar dusun atau menunggu bantuan distribusi air dari pemerintah.

Mudrikah (45), warga Dusun Bulu, mengatakan kekeringan di wilayahnya sudah berlangsung sekitar empat bulan. Sementara hujan disebut sudah tidak turun selama kurang lebih tiga bulan terakhir.

“Kalau krisis air bersih sampai kekeringan ini sudah berjalan empat bulanan, bahkan tidak ada hujan itu sudah tiga bulan ini. Dan hal itu sudah jelas membuat sumur-sumur warga di sini kering semuanya, kami susah cari air bersih,” ungkap Mudrikah saat ditemui, Rabu (2/9/2026).

Menurutnya, kemarau tahun ini menjadi yang terparah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Jika sebelumnya sumur warga masih menyisakan air meski sedikit, kini sebagian besar sumur benar-benar kering.

“Sejak beberapa tahun, ini yang paling parah. Biasanya kami masih bisa dapat air meskipun sedikit dari sumur-sumur di rumah warga masing-masing. Tapi tahun ini sama sekali tidak ada air, kering semuanya,” ujarnya.

Parahnya kekeringan juga terlihat dari kebutuhan warga terhadap bantuan droping air bersih. Dalam kurun waktu sekitar satu hingga dua pekan, sudah enam tangki air dikirim ke Dusun Bulu.

“Tahun sebelumnya tidak sampai droping air, tahun ini saja kami sangat butuh droping air bersih, artinya kan kekeringannya parah sampai kami harus didroping air,” kata Mudrikah.

Bantuan air tersebut digunakan warga untuk berbagai kebutuhan rumah tangga, mulai dari memasak, mandi hingga kebutuhan sehari-hari lainnya.

Namun, ketika persediaan air dari droping habis sementara bantuan berikutnya belum datang, warga terpaksa membeli air isi ulang.

“Ya beli, satu galon itu Rp5 ribu dan belinya harus keluar dari dusun kami ini. Dan di rumah saya, kebutuhan airnya itu satu hari bisa sampai tiga galon,” ungkapnya.

Artinya, Mudrikah harus mengeluarkan tambahan biaya sekitar Rp15.000 setiap hari hanya untuk memenuhi kebutuhan air bersih keluarganya.

Agar tidak harus bolak-balik keluar dusun, ia biasanya membeli air dalam jumlah banyak sekaligus.

“Biar tidak bolak balik kan, karena sehari bisa habis tiga galon di rumah saya, jadi sekali beli sampai tujuh atau delapan galon,” jelasnya.

Air sebanyak itu biasanya cukup untuk memenuhi kebutuhan selama beberapa hari, terutama ketika bantuan droping air belum datang.

Warga berharap pemerintah segera membangun sumur bor di Dusun Bulu. Sebab, meski terdapat sumur bor atau program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) di sekitar wilayah tersebut, aliran airnya belum menjangkau permukiman warga Dusun Bulu.

“Ada, tapi airnya tidak sampai ke sini di kampung-kampung di Dusun Bulu ini karena sudah habis dulu di wilayah dusun dekat-dekat sini. Jadi kami harap ada bantuan sumur bor sesegera mungkin dari pemerintah supaya kami ini bisa tidak kekurangan air bersih,” harap Mudrikah.

Pemkab Semarang Salurkan Ratusan Tangki Air Bersih

Kondisi kekeringan di Kabupaten Semarang mendapat perhatian Pemerintah Kabupaten Semarang. Bupati Semarang Ngesti Nugraha bersama BPBD, PMI, Forkopimcam Suruh dan sejumlah pihak terkait turun langsung menyalurkan bantuan air bersih ke sejumlah wilayah terdampak pada Rabu (2/9/2026).

Ngesti juga mendatangi Dusun Bulu untuk menyerahkan bantuan air bersih sekaligus meninjau lokasi yang direncanakan menjadi titik pembangunan sumur bor.

Menurut Ngesti, kekeringan tahun ini berlangsung cukup panjang sehingga bantuan air bersih harus dilakukan secara bersama-sama.

“Sampai saat ini di Kabupaten Semarang ada wilayah-wilayah yang mengalami kekeringan, dan durasinya memang cukup panjang sehingga bantuan droping air bersih ini kami lakukan bersama-sama dengan BPBD, PMI, Disdikbudpora, Baznas, relawan, dan pihak-pihak perusahaan yang lainnya di Kabupaten Semarang,” katanya.

Pemkab Semarang mencatat terdapat sembilan kecamatan dari total 19 kecamatan yang terdampak kekeringan. Sebanyak 18 desa mengalami kekurangan air bersih.

Khusus pada Rabu (2/9/2026), sebanyak 15 tangki air bersih disalurkan ke empat dusun di Kecamatan Suruh.

Wilayah tersebut meliputi Dusun Bulu, Dusun Jambe dan Dusun Jangglengan di Desa Dadapayam serta Dusun Glagahombo di Desa Sukorejo.

Secara keseluruhan, hingga Rabu, Pemkab Semarang telah menyalurkan 275 tangki air bersih ke berbagai wilayah terdampak kekeringan.

“Di Kabupaten Semarang, saat ini ada sekitar sembilan kecamatan dari total 19 kecamatan, dan 18 desa yang ada di Kabupaten Semarang ini yang mengalami kekeringan atau kekurangan air bersih,” ujar Ngesti.

Di Dusun Bulu sendiri terdapat 123 kepala keluarga yang terdampak kekeringan. Selain itu, kekeringan juga melanda Dusun Jambe dengan 50 kepala keluarga dan Dusun Jangglengan dengan 141 kepala keluarga.

Sementara di Dusun Glagahombo, Desa Sukorejo, terdapat 193 kepala keluarga yang turut mengalami krisis air bersih.

Untuk mengatasi persoalan dalam jangka panjang, Pemkab Semarang berencana membangun sumur bor di wilayah Dusun Bulu.

Ngesti bersama BPBD, kepala desa dan Camat Suruh telah meninjau lokasi yang direncanakan menjadi titik pengeboran.

Namun, sebelum pengeboran dilakukan, pemerintah akan melakukan survei geolistrik untuk mengetahui potensi keberadaan sumber air tanah.

“Ketika titik ini berhasil dilakukan tes geolistriknya maka kami segera upayakan untuk siapkan anggarannya baik dari APBD maupun CSR, supaya pengeboran di sini bisa segera terlaksana dan kebutuhan air warga bisa terpenuhi sepenuhnya,” pungkas Ngesti.

Pemerintah berharap hujan segera turun sehingga sumber-sumber air yang mengering dapat kembali terisi dan kebutuhan air bersih masyarakat di wilayah terdampak kekeringan bisa berkurang.

 

 

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *