SEMARANG, JatengSatu.TOP – Direktorat Reserse Narkoba Polda Jawa Tengah mengungkap modus peredaran narkotika jenis sabu menggunakan jasa ekspedisi antar kota untuk mengelabui petugas.
Dalam pengungkapan tersebut, polisi menangkap tiga tersangka berinisial ATA (32), RA (31), dan ADS (29) yang diketahui merupakan jaringan pengedar sabu lintas wilayah di Jawa Tengah.
Direktur Reserse Narkoba Polda Jateng Yos Guntur mengatakan, kasus itu terungkap setelah petugas menerima informasi masyarakat terkait aktivitas mencurigakan di wilayah Kelurahan Kudu, Kabupaten Sukoharjo.
Setelah melakukan penyelidikan, polisi menangkap ketiga tersangka di sebuah kamar kos kawasan Demalang, Kecamatan Baki, Sukoharjo.
Dari lokasi tersebut, polisi menemukan puluhan paket sabu serta sejumlah alat yang digunakan untuk aktivitas peredaran narkoba.

Pengembangan kemudian dilakukan setelah tersangka ATA mengaku telah mengirim paket sabu seberat sekitar 100 gram ke Kota Pekalongan melalui jasa ekspedisi.
Tim Ditresnarkoba Polda Jateng lalu bergerak menuju kantor ekspedisi di Jalan Gajah Mada, Tirto, Pekalongan Barat dan berhasil menemukan dua paket sabu.
“Dari lokasi kedua tersebut, petugas mengamankan dua paket sabu dengan berat bruto 107,7 gram yang disamarkan dalam paket pengiriman barang menggunakan kardus dan barang pelapis lainnya,” kata Yos Guntur.
Menurut hasil pemeriksaan, sabu tersebut berasal dari seorang pemasok berinisial D yang saat ini masih buron.
Barang haram itu diambil di wilayah sekitar Embarkasi Boyolali sebelum dikemas dan diedarkan kembali oleh para tersangka.

Polda Jateng menilai penggunaan jasa ekspedisi menjadi salah satu modus yang kini sering dipakai jaringan narkotika untuk menghindari pengawasan aparat.
“Para pelaku menggunakan berbagai modus untuk menyamarkan peredaran narkotika, termasuk pengiriman melalui jasa ekspedisi antar kota. Namun seluruh pola tersebut terus kami antisipasi melalui penguatan penyelidikan dan pengembangan jaringan,” tegas Yos Guntur.
Pihak kepolisian memastikan pengembangan kasus masih terus dilakukan untuk memburu pemasok utama dan kemungkinan jaringan lain yang terlibat dalam peredaran sabu tersebut.
“Kami tidak akan berhenti pada pengedar di lapangan. Pengembangan akan terus dilakukan hingga ke jaringan pemasok utama,” pungkasnya.




