Awalnya Segan dengan TNI, Warga Watuduwur Kini Malah Anggap Prajurit sebagai Saudara
PURWOREJO, JatengSatu.TOP – Ada yang berubah di Desa Watuduwur, Kecamatan Bruno, Kabupaten Purworejo, sejak Satgas TMMD Reguler ke-129 Kodim 0708/Purworejo berada di tengah masyarakat.
Bukan hanya jalan desa yang perlahan berubah setelah dikerjakan melalui program TMMD. Hubungan antara warga dan prajurit TNI pun ikut berubah. Rasa sungkan yang semula muncul kini berganti menjadi keakraban.
Setiap hari, anggota Satgas TMMD bersama warga bahu-membahu mengerjakan pengecoran jalan. Dari aktivitas itulah komunikasi mulai terbangun. Warga yang awalnya segan berbicara dengan prajurit perlahan mulai berani bercanda, bertukar cerita hingga duduk bersama.
Faturohman, warga Desa Watuduwur, mengaku semula dirinya merasa canggung untuk mengajak anggota TNI berbincang. Namun, suasana berubah setelah mereka setiap hari bertemu dan bekerja bersama.
“Awalnya kami segan pak untuk ngobrol dengan pak TNI, tapi lama-kelamaan semakin hari berjalannya Program TMMD kami ngobrol semakin asyik dan nyambung,” ungkap Faturohman, Senin (27/7/2026).
Menurut Faturohman, sikap ramah anggota Satgas membuat warga tidak lagi merasa berjarak dengan para prajurit. Mereka dinilai mau membaur dan tidak menempatkan diri berbeda dari masyarakat.
Bahkan, keakraban tersebut tidak hanya terjadi ketika pekerjaan berlangsung. Saat beristirahat, warga dan anggota Satgas kerap duduk bersama sambil berbincang santai dan menikmati makanan sederhana yang disiapkan masyarakat.
Bagi Faturohman, kedekatan itu menjadi salah satu kesan paling berharga dari pelaksanaan TMMD. Sebab, masyarakat bukan hanya mendapatkan pembangunan jalan yang diharapkan memudahkan akses, tetapi juga mengenal lebih dekat para prajurit yang bekerja bersama mereka.
“Kami merasa senang dengan adanya Program TMMD ini. Selain jalan yang dibangun akan memudahkan akses masyarakat, kami juga mendapat saudara baru dari bapak-bapak TNI. Kedekatan seperti ini membuat kami merasa TNI benar-benar hadir di tengah masyarakat,” tambahnya.
Pemandangan tersebut menjadi gambaran bagaimana program TMMD tidak hanya bekerja dengan target pembangunan fisik. Kehadiran prajurit selama proses pengerjaan membuat interaksi dengan masyarakat berlangsung secara langsung dan terus-menerus.
Dari pengecoran jalan, muncul gotong royong. Dari gotong royong, tumbuh komunikasi. Dan dari komunikasi yang berlangsung setiap hari, rasa sungkan perlahan berubah menjadi kedekatan.
Bagi warga Watuduwur, jalan yang dibangun memang menjadi hasil nyata yang akan mereka manfaatkan. Namun, hubungan yang terjalin dengan anggota Satgas menjadi pengalaman lain yang tidak kalah berarti.
TMMD Reguler ke-129 akhirnya tidak hanya meninggalkan jalan yang lebih baik di Desa Watuduwur. Program tersebut juga meninggalkan cerita tentang prajurit yang datang sebagai orang asing, lalu pulang dengan membawa kesan sebagai bagian dari keluarga masyarakat.



