Bandar Sabu Gunakan Zangi untuk Hindari Pelacakan Polisi, Aplikasi Privasi Tinggi Nomor Bisa Berubah

Bandar Sabu Gunakan Zangi untuk Hindari Pelacakan Polisi, Aplikasi Privasi Tinggi Nomor Bisa Berubah (Foto: Taufik)

SEMARANG, JatengSatu.TOP – Pengungkapan kasus sabu seberat lebih dari 1,5 kilogram oleh Direktorat Reserse Narkoba Polda Jawa Tengah tidak hanya membongkar jaringan peredaran narkotika, tetapi juga mengungkap modus komunikasi yang digunakan pelaku untuk menghindari pelacakan aparat.

Dalam kasus tersebut, bandar yang mengendalikan pengiriman sabu diketahui menggunakan aplikasi Zangi untuk berkomunikasi dengan kurir. Melalui aplikasi itu, seluruh instruksi diberikan tanpa pertemuan langsung dan tanpa identitas yang jelas.

Fakta tersebut terungkap dalam konferensi pers pengungkapan kasus narkotika dan pemusnahan barang bukti yang digelar di Mako Ditresnarkoba Polda Jateng, Jalan Tanah Putih, Kota Semarang, Jumat (5/6/2026) siang.

Bandar Hanya Dikenal dengan Nama “Pak Bos”

Wakil Direktur Reserse Narkoba Polda Jawa Tengah AKBP Donny Sardo Lumbantoruan mengatakan tersangka utama berinisial EH mengaku mendapatkan seluruh perintah dari seseorang yang hanya dikenalnya dengan sebutan “Pak Bos”.

Selama menjalankan aktivitas sebagai kurir, EH tidak pernah bertemu langsung dengan orang yang memerintahkannya.

Seluruh komunikasi dilakukan secara daring melalui aplikasi pesan.

Bahkan hingga saat ditangkap, EH mengaku tidak mengetahui identitas asli, alamat, maupun keberadaan sosok yang mengendalikan pengiriman sabu tersebut.

“Informasi dari yang bersangkutan, belum pernah ketemu. Hanya komunikasi saja,” kata Donny.

Kondisi tersebut membuat penyidik harus bekerja lebih keras untuk menelusuri identitas pengendali utama jaringan tersebut.

Komunikasi Tidak Menggunakan WhatsApp

Dalam pemeriksaan, polisi menemukan fakta bahwa komunikasi antara bandar dan kurir tidak dilakukan melalui aplikasi yang umum digunakan masyarakat seperti WhatsApp.

Sebaliknya, pelaku memilih menggunakan aplikasi Zangi.

Menurut penyidik, aplikasi tersebut digunakan karena dianggap memiliki tingkat privasi yang lebih tinggi.

“Bukan pakai WA. Pakai aplikasi lain, mereknya Zangi,” ungkap Donny.

Melalui aplikasi itu, tersangka menerima berbagai instruksi, mulai dari lokasi pengambilan kendaraan hingga titik pengambilan sabu di Jawa Timur.

Bandar juga mengarahkan perjalanan kurir tanpa harus melakukan komunikasi secara langsung.

Nomor Berubah, Akun Mudah Dihapus

Penyidik mengungkap salah satu kendala dalam pengembangan kasus ini adalah karakteristik aplikasi yang digunakan pelaku.

Berdasarkan keterangan tersangka, nomor yang digunakan dalam aplikasi tersebut dapat berubah sehingga menyulitkan proses identifikasi.

Selain itu, akun maupun aplikasi dapat dihapus setelah digunakan.

“Di aplikasi itu nomornya berubah. Terus aplikasinya sudah dihapus lagi,” kata Donny.

Modus semacam ini membuat jejak komunikasi menjadi lebih sulit ditelusuri dibandingkan penggunaan aplikasi pesan konvensional.

Karena itu, polisi kini melibatkan kemampuan digital forensik untuk menelusuri kemungkinan data yang masih dapat dipulihkan dari perangkat elektronik milik tersangka.

Perintah Ambil Mobil hingga Jemput Sabu

Dari hasil penyidikan, diketahui bahwa seluruh rangkaian pengiriman sabu dikendalikan oleh “Pak Bos” melalui aplikasi tersebut.

EH mengaku menerima instruksi untuk mengambil mobil Honda Brio merah yang telah disiapkan di kawasan Kota Semarang.

Setelah itu, ia kembali mendapat perintah untuk berangkat ke Surabaya guna mengambil sabu.

Lokasi pengambilan barang, waktu perjalanan hingga tujuan akhir pengiriman seluruhnya ditentukan oleh bandar.

Kurir hanya menjalankan arahan yang diberikan melalui aplikasi.

Pola tersebut membuat bandar tidak perlu bertemu dengan pelaksana di lapangan dan meminimalkan risiko teridentifikasi apabila terjadi penangkapan.

Polisi Masih Kejar Pengendali Jaringan

Meski empat tersangka telah diamankan dalam kasus sabu 1,5 kilogram tersebut, Ditresnarkoba Polda Jateng menegaskan pengungkapan perkara belum selesai.

Fokus penyidikan kini mengarah pada upaya membongkar sosok pengendali utama yang selama ini bersembunyi di balik komunikasi digital.

Menurut Donny, identitas “Pak Bos” masih menjadi target utama penyelidikan.

“Untuk identitas Pak Bos itu sendiri masih dalam penyelidikan kami dan akan kita tindak lanjuti,” tegasnya.

Penyidik juga mendalami kemungkinan adanya jaringan lain yang terhubung dengan pengendali tersebut.

Modus Kejahatan Ikut Berkembang

Kasus ini menunjukkan bahwa jaringan narkotika tidak hanya memanfaatkan jalur distribusi konvensional, tetapi juga mulai mengandalkan teknologi komunikasi yang dianggap lebih aman.

Jika sebelumnya pelaku banyak menggunakan telepon seluler biasa atau aplikasi pesan populer, kini mereka mulai beralih ke platform yang memiliki fitur privasi lebih tinggi.

Bagi Ditresnarkoba Polda Jateng, penggunaan aplikasi Zangi menjadi salah satu indikasi bahwa modus peredaran narkotika terus berkembang mengikuti kemajuan teknologi.

Karena itu, selain melakukan penindakan di lapangan, kepolisian juga memperkuat kemampuan investigasi digital guna mengimbangi pola operasi baru yang digunakan jaringan narkoba dalam menjalankan aktivitasnya.

 

 

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *