Jumat Berkah! Sedekah Jilbab Jadi Tren Baru di Semarang
SEMARANG, JatengSatu.TOP – Jumat berkah di Semarang kini diwarnai dengan gerakan berbagi jilbab kepada masyarakat. Sedekah jilbab menjadi bagian dari aksi sosial yang dipadukan dengan dakwah dalam memperingati Hari Solidaritas Jilbab Sedunia.
Kegiatan tersebut digelar PW Muslimat Hidayatullah (Mushida) Jawa Tengah melalui Departemen Sosial bersama BMH dan Pos Dai pada Jumat (4/9/2026) di Gedung Dakwah Hidayatullah Jawa Tengah.
Mengusung tema “Muslimah Berjilbab, Wujud Ketaatan, Pilar Kemuliaan”, kegiatan ini diikuti sekitar 80 masyarakat sekitar. Selain pembagian hijab, warga juga mendapatkan Sedekah Jumat, sembako, dan beras.
Ketua Perwakilan BMH Jawa Tengah, Ustaz Abdul Karim, mengatakan kegiatan tersebut menjadi bentuk kolaborasi antara dakwah dan kepedulian sosial.
“Kolaborasi ini adalah wujud sinergi kebaikan. Kami berharap masyarakat mendapatkan banyak manfaat, baik melalui Sedekah Jumat, berbagi beras dan jilbab, maupun taujih yang menguatkan pentingnya muslimah menjaga kehormatan dengan berjilbab,” ujarnya.
Menurutnya, pemberian jilbab tidak hanya dimaknai sebagai pembagian bantuan. Ada pesan sosial dan dakwah yang ingin disampaikan kepada masyarakat melalui kegiatan tersebut.
Ketua PW Mushida Jawa Tengah, Tri Wahyu Prihatin, S.Pd., mengajak para muslimah memaknai hijab bukan sekadar bagian dari penampilan, tetapi juga sebagai bentuk kesadaran menjalankan perintah Allah SWT.
Ia juga menekankan peran ibu dalam memberikan pemahaman kepada anak perempuan mengenai kewajiban berhijab sejak dini. Pesan tersebut dikaitkan dengan tuntunan dalam QS. An-Nur ayat 31 dan QS. Al-Ahzab ayat 59.
Jilbab dan Pesan Kemuliaan Perempuan
Ketua DPW Hidayatullah Jawa Tengah, Ali Subur, S.E., mengatakan peringatan Hari Solidaritas Jilbab Sedunia juga menjadi momentum untuk mengingat kembali kedudukan perempuan dalam Islam.
Menurutnya, melalui perjuangan Rasulullah SAW, Islam mengangkat derajat perempuan dari berbagai bentuk penghinaan dan perlakuan tidak manusiawi pada masa jahiliyah.
Karena itu, ia mengajak muslimah untuk mensyukuri kemuliaan tersebut dan menjaganya melalui sikap serta perilaku yang mencerminkan kehormatan diri.
“Muslimah harus bersyukur dan sadar akan kemuliaan dirinya. Kemuliaan itu harus dijaga, salah satunya dengan menjaga aurat,” ungkapnya.
Ali Subur juga menyoroti masih adanya eksploitasi perempuan dalam kehidupan modern, terutama dalam industri periklanan dan media.
“Sekarang banyak sekali iklan yang modelnya adalah perempuan. Kalau dipikir, tidak ada kaitannya antara produk dan gaya perempuan yang ditampilkan. Ini sebenarnya eksploitasi perempuan yang tidak disadari masyarakat,” tegasnya.
Sedekah Jilbab Jadi Bagian dari Jumat Berkah
Rangkaian kegiatan tidak hanya diisi dengan tausiah dan penyampaian pesan tentang jilbab. Masyarakat yang hadir juga menerima berbagai bantuan sosial berupa Sedekah Jumat, sembako, beras, dan hijab.
Bagi penyelenggara, aksi tersebut menunjukkan bahwa dakwah dapat berjalan beriringan dengan kepedulian sosial. Pesan tentang menjaga kehormatan muslimah disampaikan sekaligus melalui aksi nyata yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.
Sedekah jilbab juga menjadi bentuk sederhana untuk mengajak masyarakat berbagi. Jilbab yang diberikan kepada penerima diharapkan tidak hanya bermanfaat secara praktis, tetapi juga membawa pesan tentang pentingnya menjaga kehormatan dan menjalankan nilai-nilai keagamaan.
Kolaborasi PW Mushida Jawa Tengah, BMH, dan Pos Dai tersebut diharapkan dapat terus berkembang menjadi gerakan kebaikan yang menggabungkan dakwah, pemberdayaan, dan kepedulian sosial.
“Kami berharap kegiatan seperti ini bisa terus memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” pungkas Abdul Karim.



