Alumni Binus Tembus Istana Presiden, AI dan Skill Komputer Ciptakan Koreografi Modern

Alumni Binus Tembus Istana Presiden, AI dan Skill Komputer Ciptakan Koreografi Modern (Foto: Taufik)

 

SEMARANG, JatengSatu.TOP — Perubahan dunia kerja di era Artificial Intelligence (AI) membuat jalur karier lulusan perguruan tinggi kini semakin beragam. Tidak sedikit lulusan yang akhirnya sukses di bidang berbeda dari jurusan kuliah yang ditempuh.

Kisah tersebut salah satunya datang dari alumni yang kini berkarier sebagai lead choreographer di Istana Presiden meski berasal dari jurusan komputer.

Cerita itu diungkap Direktur Kampus BINUS University @Semarang, Fredy Purnomo, saat membahas perubahan pola karier generasi muda di era digital.

Menurut Fredy, perkembangan teknologi membuat dunia kerja bergerak sangat cepat sehingga profesi seseorang tidak selalu harus sesuai dengan bidang pendidikan yang diambil saat kuliah.

Alumni Binus Tembus Istana Presiden, AI dan Skill Komputer Ciptakan Koreografi Modern (Foto: Taufik)

Ia mengatakan keterampilan yang dipelajari di bangku kuliah tetap dapat dimanfaatkan di berbagai profesi, termasuk di industri kreatif.

“Jadi ada contohnya alumni kami, lulusan komputer, tapi malah jadi professional dancer dulu,” ujar Fredy, Jumat (8/5/2026).

Alumni tersebut sempat merasa bersalah karena bekerja tidak sesuai bidang kuliahnya. Namun, kariernya justru berkembang hingga dipercaya menjadi koreografer utama di lingkungan Istana Presiden.

“Kalau ketemu saya selalu minta maaf karena bekerja tidak sesuai dengan bidang ilmu. Tapi saya tanya, sekarang jadi apa? Ternyata lead choreographer di Istana Presiden. Oke itu, saya dukung,” katanya.

Fredy menjelaskan kemampuan teknologi yang dimiliki alumnus tersebut tetap digunakan dalam pekerjaannya sehari-hari. Teknologi digital dimanfaatkan untuk menyusun konsep gerakan hingga pengembangan koreografi.

“Tetap dalam pelaksanaan sehari-hari, dia menciptakan koreografi, datanya dimasukkan ke aplikasi, sehingga akhirnya dia bisa menciptakan koreografi, dia tetap memanfaatkan skill di komputernya,” jelasnya.

Menurut Fredy, kisah tersebut menunjukkan bahwa pendidikan tidak semata-mata soal bekerja sesuai jurusan, tetapi bagaimana lulusan mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.

Ia menilai perkembangan AI justru membuka peluang lahirnya profesi-profesi baru yang sebelumnya belum pernah ada.

Karena itu, BINUS University @Semarang menerapkan pendekatan Human-AI Collaboration dalam kurikulumnya. Mahasiswa diajarkan memanfaatkan AI sebagai alat bantu untuk memperkuat kemampuan berpikir dan kreativitas.

“Pilotnya siapa? Pilotnya ya para mahasiswa sendiri,” ujar Fredy.

Mahasiswa tetap dituntut membangun ide dan kerangka berpikir secara mandiri sebelum memanfaatkan AI dalam proses pengerjaan tugas maupun pengembangan proyek.

Fredy mengatakan pendidikan saat ini harus mampu menyiapkan mahasiswa menghadapi pekerjaan masa depan yang terus berubah.

“Kami melihat bahwa pendidikan harus mulai memberikan dampak sejak mahasiswa masih kuliah. Mahasiswa tidak hanya dipersiapkan untuk pekerjaan yang ada hari ini, tetapi juga pekerjaan yang bahkan belum ada saat ini,” katanya.

Selain kemampuan akademik dan teknologi, kampus juga menanamkan mental adaptif serta semangat belajar sepanjang hayat kepada mahasiswa.

“Di mana pun mereka belajar, benih keingintahuan itu sudah ditanamkan, sehingga ketika sudah lulus mereka selalu menjadi seorang insan pembelajar,” tandasnya.

Alumni Binus Tembus Istana Presiden, AI dan Skill Komputer Ciptakan Koreografi Modern (Foto: Taufik)

Menurut data internal BINUS University, sekitar 85 persen lulusan bekerja sesuai bidang ilmu yang dipelajari. Sementara sebagian lainnya memilih jalur karier berbeda, tetapi tetap memanfaatkan keterampilan yang diperoleh selama kuliah.

Digital Psychology Program BINUS University, Gary Collins Brata Winardy, menilai perkembangan teknologi saat ini memang membuat banyak anak muda khawatir salah memilih jurusan.

“Kekhawatiran akan masa depan adalah hal yang wajar. Orang tua dan anak mengalami kekhawatiran dan ketakutan salah memilih jurusan. Apalagi saat perkembangan teknologi membawa ketakutan bahwa jurusan yang saat ini dipilih tidak lagi relevan di kemudian hari,” jelasnya.

Menurut Gary, pendidikan yang mampu memberikan pengalaman nyata dan kemampuan adaptif akan membantu mahasiswa lebih siap menghadapi perubahan dunia kerja di era AI.

 

 

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *