LAZISMU Soroti Nasib Amil: Jangan Cuma Tuntut Kompeten, Sejahterakan Juga

Standar Kesejahteraan Jadi Sorotan di Balik Sertifikasi 121 Amil LAZISMU

SEMARANG, JatengSatu.TOP – Upaya mencetak pengelola zakat yang profesional dan amanah terus dilakukan Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Muhammadiyah atau LAZISMU. Bertempat di Hotel Candi Indah, Kota Semarang, sertifikasi amil LAZISMU resmi digelar selama empat hari, Senin hingga Kamis (2-5/11/2026). Mengusung tema Amil Kompeten, Lembaga Unggul, Zakat Berdampak, kegiatan ini diikuti oleh 121 peserta dari delegasi LAZISMU Wilayah dan Daerah di berbagai provinsi.

Kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen LAZISMU dalam menyiapkan sumber daya manusia yang mampu menjawab tantangan pengelolaan zakat yang semakin kompleks. Badan Pengurus LAZISMU Pusat bertindak sebagai penanggung jawab, dengan LAZISMU Jawa Tengah sebagai pelaksana. Proses sertifikasi melibatkan Lembaga Sertifikasi Profesi Muhammadiyah dan asesor kompetensi bersertifikat BNSP.

Ketua Badan Pengurus LAZISMU Pusat, Ahmad Imam Mujaddid Rais, menyoroti bahwa peningkatan kapasitas melalui sertifikasi amil menjadi tantangan besar, tidak hanya bagi LAZISMU tetapi juga bagi lembaga zakat lainnya. Hingga Juni 2026, tercatat baru sekitar 216 amil yang tersertifikasi. Dengan tambahan 121 peserta pada angkatan kali ini, jumlah tersebut sedikit bertambah, meski ia menyadari angka tersebut masih sangat kecil dibandingkan total amil secara keseluruhan.

Ini jumlah yang masih sedikit kalau kita bandingkan dengan jumlah amil keseluruhan, tapi ini menjadi modal yang berharga. Ini harus terus kita tingkatkan, ujar Ahmad Imam di sela-sela kegiatan, Senin (2/11/2026).

Ia pun melempar tantangan kepada LAZISMU Jawa Tengah untuk tidak berhenti di tingkat nasional. Menurutnya, pengalaman dan kapasitas yang dimiliki LAZISMU sudah sepatutnya dibagikan ke tingkat yang lebih luas.

Kita seringkali kalau bicara zakat merujuk ke Malaysia atau Singapura. LAZISMU punya pengalaman yang bisa kita tularkan kepada dunia, tegasnya.

Harapan besarnya, dengan adanya sekolah amil ini, para amil dapat lebih kompeten dalam menjawab tantangan dan kebutuhan para mustahik maupun muzaki. Ia ingin masyarakat tidak lagi ragu dalam menyalurkan zakatnya karena amil-amil LAZISMU dinilai siap melayani dengan kapasitas yang mumpuni, sehingga masalah-masalah sosial dapat diatasi secara perlahan.

Standar Upah Setara UMR dan Kejelasan Karir

Selain soal kompetensi, Ahmad Imam menyoroti dua pekerjaan rumah besar dalam ekosistem lembaga zakat. Persoalan pertama adalah terkait standar kesejahteraan atau maisyah amil. Ia mengapresiasi langkah LAZISMU Jawa Tengah yang dinilai telah memiliki pengalaman baik dalam menetapkan standar minimal kesejahteraan bagi para amilnya, setidaknya setara dengan Upah Minimum Regional atau UMR.

Paling tidak minimal UMR. Ini harus kita berani sampaikan, supaya amil sebelum berjuang membela mustahik, dia juga sejahtera dengan dirinya sendiri. Sehingga dia bisa fokus menjalankan tugas-tugasnya, jelasnya.

Pekerjaan rumah kedua yang tidak kalah penting adalah mengenai jenjang karir. Ahmad Imam menilai, selama ini desain karir bagi amil belum tertata dengan baik. Menurutnya, seorang amil perlu mengetahui secara jelas bagaimana tahapan karir mereka, mulai dari staf, manajer, hingga direktur, serta berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mencapai posisi tersebut.

Jadi ini penting untuk kita sampaikan agar mereka ada satu fokus dan ketenangan, sehingga mereka tahu habis dari sini mereka akan ke mana, pungkas Ahmad Imam.

Tata Kelola Keuangan Hingga Kompetensi SDM

Senada dengan hal tersebut, Ketua Badan Pengurus LAZISMU Jawa Tengah, Dwi Swasana Ramadhan, menegaskan bahwa pelatihan ini menyentuh aspek yang sangat fundamental. Mulai dari hulu hingga hilir pengelolaan zakat.

Materi sekolah amil ini membahas penghimpunan dari LAZISMU itu sendiri. Bagaimana kita bisa menjadi lembaga zakat terpercaya yang agresif, yang kemudian menjadi pilihan masyarakat karena keterpercayaannya tersebut, ujar Dwi.

Tidak hanya soal penghimpunan, Dwi menyebut pihaknya juga membahas tata kelola keuangan yang terintegrasi dan real time. Selain itu, kompetensi SDM amil menjadi fokus utama agar mereka memiliki kepercayaan diri dalam menjalankan tugas. Ujungnya, output dari program-program LAZISMU diharapkan dapat memberikan dampak nyata.

Harapannya seperti yang disampaikan Pak Ketua LAZISMU Pusat, seberapa besar sih peran Muhammadiyah melalui LAZISMU ini bisa mengentaskan kemiskinan di Indonesia. Itu yang ingin kita capai, tegas Dwi.

Rangkaian pelatihan selama tiga hari difokuskan untuk memperkuat kemampuan teknis dan manajerial. Materi yang disiapkan meliputi fikih zakat menurut tarjih, sosialisasi zakat eksekutif, pengelolaan hubungan dengan donatur, penyusunan dan monitoring program berdampak, hingga laporan keuangan berdasarkan PSAK 409. Pada hari keempat, peserta menjalani asesmen kompetensi yang mencakup dua klaster, yaitu Klaster Pelaksanaan Pengumpulan Zakat serta Klaster Pelaksanaan Pendistribusian dan Pendayagunaan Zakat.

Proses asesmen dinilai melalui verifikasi portofolio, wawancara, observasi demonstrasi, hingga uji tulis. Peserta yang dinyatakan kompeten akan memperoleh sertifikat resmi sebagai pengakuan atas kemampuan profesional mereka. Melalui pembekalan menyeluruh ini, LAZISMU berupaya memastikan dana umat yang dikelola benar-benar amanah dan berdampak bagi kesejahteraan masyarakat.

 

 

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *