TMMD Reguler ke-129 Desa Cukil Rampung, Warga Gelar Kenduri di Jalan Baru
SEMARANG, JatengSatu.TOP — Penutupan TMMD Reguler ke-129 di Desa Cukil, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang, diwarnai tradisi kenduri warga. Usai pembangunan jalan rampung, masyarakat menggelar makan bersama di jalan baru, tepat di bawah pohon besar.
Bukan jamuan dari panitia, seluruh hidangan kenduri dibawa dan disiapkan sendiri oleh warga. Sejak dari rumah, warga memasak berbagai makanan untuk kemudian dikumpulkan dan disantap bersama dalam suasana guyub.
Pemandangan itu membuat jalan beton yang baru selesai dibangun berubah menjadi tempat makan bersama. Warga duduk berkelompok di bawah pohon besar sambil menikmati makanan yang mereka bawa.
Berbagai hidangan tersaji dalam kenduri tersebut. Mulai dari ingkung ayam, tumpeng, nasi kuning, lauk-pauk, gudangan sayuran, buah-buahan hingga aneka jajanan.

Tradisi kenduri itu menjadi bentuk rasa syukur masyarakat atas selesainya pembangunan jalan melalui TMMD Reguler ke-129. Bagi warga, jalan tersebut bukan sekadar infrastruktur, tetapi akses penting yang akan digunakan setiap hari.
Kepala Dusun Gombyong Desa Cukil, Muhammad Umar Syafi’i, mengatakan kenduri merupakan tradisi masyarakat yang terus dipertahankan. Setiap kali ada kegiatan yang membawa manfaat atau warga mendapatkan nikmat, mereka menggelar syukuran bersama.
“Setelah pembangunan atau bersih kali, sebagai wujud rasa syukur telah diberikan kenikmatan rezeki dan sebagainya, itu bisa dilaksanakan di seluruh warga kami,” kata Umar.
Menurut Umar, tempat pelaksanaan kenduri biasanya menyesuaikan kegiatan yang telah dilakukan. Ketika warga melakukan bersih kali, kenduri digelar di sekitar sungai. Sedangkan kali ini, kenduri dilaksanakan di jalan yang baru selesai dibangun melalui TMMD.
“Kalau pas acara bersih kali ya di kali itu, di sungai itu. Dalam rangka TMMD ini terutama di jalan,” ujarnya.

Jalan tersebut dibangun sepanjang sekitar 1.265 meter dengan lebar sekitar 3 meter. Akses itu menghubungkan Desa Cukil dengan Desa Kemetul sekaligus membuka jalur yang lebih mudah bagi masyarakat di dua wilayah kecamatan.
Sebelum dibangun melalui TMMD, jalan tersebut hanya berupa bebatuan atau makadam. Kondisinya membuat warga harus menggunakan jalur memutar untuk menjalankan aktivitas sehari-hari.
“Jalan yang sebelah sana jelek sekali, cuma bebatuan, cuma makadam. Warga tidak pernah lewat jalan yang belum dirabat,” kata Umar.
Jalur tersebut terutama digunakan untuk aktivitas pertanian dan pekerjaan. Warga Desa Kemetul yang bekerja di wilayah Kecamatan Tengaran juga mendapatkan keuntungan karena akses menuju tempat kerja menjadi lebih dekat.
Sebelumnya, warga harus memutar hingga sekitar 5 kilometer. Setelah jalan dibangun, perjalanan dapat dipangkas sekitar 2 sampai 3 kilometer.
“Kalau muter sekitar 5 kilometer. Kalau ini memangkas 2 sampai 3 kilometer lebih, lebih cepat,” ujar Umar.
Wakil Ketua DPRD Kabupaten Semarang, Zainudin, mengapresiasi masyarakat Desa Cukil yang tetap mempertahankan tradisi kenduri dalam penutupan TMMD. Menurutnya, kegiatan tersebut menunjukkan kuatnya kebersamaan masyarakat desa.
“Saya mengucapkan apresiasi, ucapan terima kasih kepada masyarakat Desa Cukil yang antusias dengan adanya program TMMD ini dan dalam rangka penutupan ini diadakan tasyakuran,” kata Zainudin.

Zainudin mengatakan tasyakuran merupakan tradisi masyarakat desa ketika mendapatkan nikmat maupun anugerah. Masyarakat tidak hanya berkumpul, tetapi juga membawa makanan dan menikmatinya bersama-sama.
“Tasyakuran ini menjadi seperti tradisi masyarakat di kampung. Masyarakat di kampung ketika mendapatkan nikmat, mendapatkan anugerah itu pasti dilakukan tasyakuran yang seperti ini,” ujarnya.
Menurutnya, tradisi makan bersama tersebut memiliki nilai sosial yang kuat. Kebiasaan seperti ini membuat masyarakat tetap bertemu, menjaga kekompakan sekaligus mempererat hubungan antartetangga.
“Diuri-uri bersama, terus makan bersama. Nah, inilah tradisi kampung yang masih dipertahankan sampai saat ini,” kata Zainudin.
Zainudin juga menilai TMMD memberikan kontribusi penting bagi pembangunan Kabupaten Semarang. Program tersebut membantu pemerintah daerah mempercepat pembangunan infrastruktur di desa, terutama ketika anggaran pemerintah memiliki keterbatasan.
“Saya tentunya sangat berterima kasih karena program TMMD ini membantu percepatan, akselerasi pembangunan yang ada di Kabupaten Semarang,” ujarnya.
Bupati Semarang Ngesti Nugraha mengatakan pembangunan jalan tersebut akan memberikan manfaat langsung kepada masyarakat. Selain menghubungkan Desa Cukil dan Desa Kemetul, jalan tersebut juga memperlancar akses ekonomi warga.
“Jalan ini menghubungkan dua desa, dua kecamatan, mempercepat untuk komunikasi dan juga meningkatkan sarana ekonomi masyarakat terutama di bidang pertanian,” kata Ngesti.
Sementara itu, Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Achiruddin menegaskan TMMD merupakan bentuk kolaborasi TNI bersama pemerintah daerah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Kita ingin menjangkau masyarakat yang ada di pelosok-pelosok. Kita ingin membangun masyarakat Indonesia dari desa. Karena kita tahu bahwa desa adalah pangkal dari pembangunan masyarakat Indonesia,” ujarnya.

Selain pembangunan jalan, TMMD Reguler ke-129 di Desa Cukil juga mencakup rehabilitasi 13 rumah tidak layak huni, sarana air bersih, sarana ibadah, pos kampling serta sejumlah kegiatan nonfisik untuk masyarakat.
Di tengah rangkaian penutupan tersebut, kenduri menjadi gambaran kuat tentang bagaimana masyarakat merayakan hasil pembangunan. Ingkung ayam, tumpeng, nasi kuning, gudangan, lauk-pauk, buah-buahan dan jajanan semuanya berasal dari dapur warga.
Jalan yang sebelumnya hanya berupa makadam kini menjadi tempat warga berkumpul dan makan bersama. Di bawah pohon besar, warga menikmati hidangan sambil merayakan selesainya pembangunan yang diharapkan membuat aktivitas pertanian, pekerjaan dan mobilitas mereka semakin mudah.



