Petani Banjarwaru Tak Lagi Takut Hujan, Mesin Pengering Gabah Oli Bekas dari PNC Jadi Solusi
CILACAP, JatengSatu.TOP – Bagi petani, hujan yang turun saat panen tiba kerap menjadi mimpi buruk. Gabah yang dijemur di jalan atau halaman rumah mendadak basah dan berjamur. Namun, kekhawatiran itu perlahan sirna bagi anggota Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sri Mukti, Desa Banjarwaru, Kabupaten Cilacap.
Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Politeknik Negeri Cilacap (PNC) hadir membawa angin segar. Pada Rabu (21/10/2026), mereka memperkenalkan inovasi mesin pengering gabah berbahan bakar oli bekas. Kegiatan ini menyasar 10 anggota Gapoktan Sri Mukti yang diketuai oleh Probo Suwito.
Selama ini, proses pengeringan gabah sangat bergantung pada terik matahari. Ketika cuaca mendung atau hujan turun, pengeringan pun terhambat dan memakan waktu lebih lama. Belum lagi, petani harus menyiapkan lahan luas untuk sekali penjemuran.
Ketua Tim PkM PNC, Ganjar Ndaru Ikhtiagung, menjelaskan bahwa inovasi ini lahir dari persoalan klasik pascapanen yang kerap menjerat petani. Intervensi teknologi ini dirancang untuk memangkas biaya produksi dan menghemat ruang.
“Intervensi teknologi pengering ini ditujukan untuk membantu petani Banjarwaru dalam mengefisienkan biaya produksi. Sebelumnya, petani mengandalkan cuaca panas dan membutuhkan lahan yang cukup luas. Dengan teknologi ini, kebutuhan lahan dapat dikurangi karena proses pengeringan dilakukan menggunakan mesin,” ujar Ganjar.
Mesin tersebut memiliki kapasitas tampung 10 kilogram gabah dalam sekali proses. Untuk mendukung kinerjanya, mesin dilengkapi dengan *blower* kipas 12 volt. Penggunaan oli bekas sebagai bahan bakar menjadi terobosan ekonomis yang memanfaatkan limbah di sekitar lingkungan.
Tak Hanya Teknologi, Literasi Keuangan Juga Digenjot
Inovasi pengering gabah ini tidak berdiri sendiri. Tim PNC menyadari bahwa peningkatan produktivitas harus dibarengi dengan pengelolaan keuangan yang sehat. Oleh karena itu, para petani juga dibekali pelatihan pembukuan sederhana.
Petani diajak untuk mencatat setiap rupiah yang keluar, mulai dari biaya pengolahan lahan, pembelian benih, pupuk, upah tenaga kerja, hingga biaya panen. Catatan ini menjadi fondasi penting untuk menghitung Harga Pokok Produksi (HPP) dan mengetahui keuntungan bersih.
“Selain teknologi pengering, kami juga mengajarkan literasi pembukuan dan keuangan agar petani mengetahui berapa biaya tanam, HPP, serta keuntungan yang sebenarnya diperoleh. Dengan begitu, petani tidak hanya fokus pada hasil panen, tetapi juga mampu mengelola usahanya secara lebih baik sehingga pendapatannya dapat dioptimalkan,” jelas Ganjar.
Ganjar menekankan, penguasaan teknologi dan kecakapan mengelola keuangan harus berjalan beriringan. Teknologi memangkas biaya dan waktu, sementara pembukuan memastikan aliran dana usaha tetap terukur dan sehat.
Kolaborasi Dosen dan Mahasiswa
Aksi pengabdian di wilayah pesisir Cilacap ini melibatkan kolaborasi apik antara dosen dan mahasiswa. Tim dosen yang terjun langsung terdiri dari Ganjar Ndaru Ikhtiagung sebagai ketua, didampingi Haikal Firmansah Anas Pratama, Fredi Setyono, Ayu Fitri Rosianie, dan Nurul Maghfirotul Jannah.
Tidak hanya itu, tiga mahasiswa dari Program Studi Akuntansi Lembaga Keuangan Syariah turut diterjunkan untuk mendampingi para petani dalam sesi literasi keuangan. Kehadiran mereka membantu petani memahami pembukuan dengan bahasa yang lebih membumi.
Melalui kegiatan bertajuk “Intervensi Teknologi Pengering Berbahan Bakar Oli Bekas dan Literasi Keuangan untuk Optimalisasi Pendapatan Petani Padi di Wilayah Pesisir Kabupaten Cilacap” yang didanai DIPA PNC Tahun Anggaran 2026 ini, Politeknik Negeri Cilacap membuktikan komitmennya. Inovasi yang dihadirkan bukan sekadar purwarupa di laboratorium, melainkan solusi nyata yang menyentuh langsung denyut nadi perekonomian petani di daerah.



