Saat Korban Minta Video Call, Sindikat Penipu Tampilkan Mantan Artis Cantik

Saat Korban Minta Video Call, Sindikat Penipu Tampilkan Mantan Artis Cantik (Foto: Taufik)

SEMARANG, JatengSatu.TOP – Kepercayaan menjadi modal utama dalam kejahatan siber bermodus pig butchering yang dibongkar Direktorat Reserse Siber Polda Jawa Tengah. Ketika rayuan melalui aplikasi kencan dan media sosial belum cukup membuat korban percaya, sindikat tersebut ternyata memiliki cara lain yang lebih meyakinkan.

Mereka menyiapkan seorang perempuan khusus yang bertugas tampil dalam panggilan video. Perempuan itu bukan sekadar pemilik foto profil akun palsu, melainkan sosok yang disiapkan untuk memperkuat skenario penipuan ketika korban mulai mempertanyakan identitas orang yang selama ini berkomunikasi dengannya.

Fakta tersebut terungkap dalam pengungkapan kasus penipuan online internasional yang beroperasi di wilayah Solo Raya. Dalam perkara itu, polisi menangkap 39 tersangka yang diduga terlibat dalam jaringan penipuan dengan keuntungan mencapai sekitar Rp41,1 miliar.

Direktur Reserse Siber Polda Jateng Kombes Pol Himawan Sutanto Saragih mengatakan jaringan tersebut memiliki pembagian tugas yang sangat rinci. Mulai dari asisten marketing yang mencari korban, marketing yang membangun hubungan emosional, leader yang mengendalikan operasi, hingga model yang bertugas tampil di depan kamera.

Menurut Himawan, sebagian besar marketing menggunakan identitas palsu saat berkomunikasi dengan korban. Mereka membuat akun media sosial menggunakan foto perempuan untuk menarik perhatian calon target.

“Marketing itu tugasnya dia berpura-pura menjadi wanita. Jadi marketing itu bisa laki-laki bisa perempuan, tapi lebih banyak laki-laki,” ujar Himawan saat konferensi pers di Mapolda Jateng, Senin (1/6/2026).

Selama berhari-hari bahkan berminggu-minggu, para marketing membangun hubungan yang tampak romantis dengan korban. Mereka mengobrol setiap hari, memberikan perhatian, dan menciptakan kedekatan emosional sebelum akhirnya mengarahkan korban ke investasi kripto palsu.

Namun dalam praktiknya, tidak semua korban langsung percaya. Sebagian mulai meminta bukti bahwa orang yang selama ini berkomunikasi dengannya benar-benar ada.

Pada titik inilah peran model menjadi sangat penting.

“Apabila korban butuh keyakinan maka yang tampil bukan marketing tapi model,” kata Himawan.

Penyidik mengungkapkan model yang diamankan berinisial F. Ia bertugas menggantikan identitas palsu yang selama ini digunakan para marketing untuk menjalin komunikasi dengan korban.

Dengan kata lain, ketika korban meminta video call, sosok yang muncul di layar bukan orang yang selama ini mengirim pesan kepadanya. Korban justru diperlihatkan perempuan lain yang memang disiapkan khusus untuk kebutuhan tersebut.

“Model yang dapat kami amankan ini tugasnya adalah melayani video call sesuai dengan yang diinginkan korban,” ungkap Himawan.

Melalui video call itu, korban dibuat semakin yakin bahwa hubungan yang dibangun selama ini adalah nyata. Setelah kepercayaan terbentuk, korban lebih mudah diarahkan untuk menanamkan dana pada platform investasi yang dikendalikan jaringan.

Polisi menemukan bahwa kemunculan model dalam video call bukan dilakukan secara spontan. Semua percakapan telah disiapkan sebelumnya agar selaras dengan cerita yang dibangun marketing.

“Nah, pada saat si korban itu akan melihat wajahnya si orang wanita itu, maka yang muncul adalah model. Dan model itu sudah disiapkan skripnya,” jelas Himawan.

Artinya, model tidak berbicara bebas. Ia menjalankan peran sesuai arahan agar korban tidak menemukan kejanggalan yang bisa membongkar identitas palsu para pelaku.

Dalam penggerebekan di Solo Raya, polisi menemukan berbagai barang yang digunakan untuk mendukung aktivitas tersebut. Salah satunya adalah meja rias yang dipakai model sebelum melakukan panggilan video dengan korban.

“Nah, ini meja riasnya yang digunakan oleh model,” kata Himawan saat menunjukkan barang bukti kepada awak media.

Tak hanya itu, penyidik juga menemukan bahwa model memiliki ruang tersendiri yang terpisah dari anggota jaringan lainnya. Sistem tersebut dibuat untuk menjaga kerahasiaan dan membatasi informasi yang diketahui masing-masing anggota.

“Dia punya ruangan tersendiri. Dia tidak kenal dengan tim-tim marketing yang lain. Dia punya privacy-nya sendiri,” ujar Himawan.

Dari hasil pemeriksaan, polisi juga memperoleh fakta menarik mengenai latar belakang model tersebut. Perempuan yang diamankan ternyata berasal dari dunia hiburan.

“Yang jelas model dari mantan artis,” kata Himawan.

Meski demikian, polisi belum mengungkap identitas lengkap perempuan tersebut karena masih menjadi bagian dari proses penyidikan yang berlangsung.

Menurut penyidik, keberadaan model menjadi salah satu alasan mengapa jaringan ini mampu mempertahankan kepercayaan korban dalam waktu lama. Para korban merasa yakin karena pernah melihat langsung sosok yang mereka anggap sebagai pasangan atau teman dekat melalui panggilan video.

Padahal seluruh proses tersebut merupakan bagian dari skenario besar untuk mengarahkan korban pada investasi kripto palsu yang telah dimanipulasi sistemnya.

Kasus ini menunjukkan bahwa kejahatan siber kini berkembang semakin kompleks. Para pelaku tidak hanya mengandalkan akun palsu dan pesan teks, tetapi juga memanfaatkan interaksi langsung melalui video call untuk memperkuat manipulasi terhadap korban.

Dengan metode tersebut, sindikat berhasil memperoleh keuntungan sebesar 2.327.625,85 dolar Amerika Serikat atau setara sekitar Rp41,1 miliar dari sedikitnya 133 korban yang sebagian besar berasal dari Amerika Serikat.

Polda Jateng masih terus mengembangkan penyidikan guna mengungkap kemungkinan adanya pelaku lain yang terlibat, termasuk pihak-pihak yang berperan dalam merekrut anggota jaringan dan menyediakan sarana operasional penipuan internasional tersebut.

 

 

 

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *